Sebulan lalu gue liburan ke Vietnam bersama Wiwid. Selain liburan, kami juga ingin reuni dengan Jared, guru bahasa Inggris sekaligus sahabat ketika tinggal di Tucson, USA. Kami tidak tour jauh-jauh, hanya stay di kota Saigon (Ho Chi Minh) dan sekitar delta Mekong. Di sana kami juga bertemu denga Jacob, adik laki-laki Jared. Seperti yang udah direncanain, Jared adalah tour guide kami selama jalan-jalan keliling Saigon. Dia sudah setahun bekerja di Saigon sebagai guru Bahasa Inggris.
Yang istimewa dari liburan kali ini adalah reuni dengan Jared. Sudah dua tahun kami tak bertemu. Dan yang selalu istimewa dari reuni ini adalah diskusi-diskusi kami. Wiwid, Jared, dan gue sering membicarakan banyak hal. Mulai dari budaya sampai hal-hal yang personal seperti asmara, politik, dan juga agama. Yap, kita membicarakan hal-hal yang tabu untuk dibicarakan dengan orang Amerika. Gue dan Wiwid selalu penasaran dengan Jared. Gue pikir Jared juga penasaran dengan kami. Karenanya kami senang berdiskusi. Selama tinggal di USA Jared sering main ke apartemen kami. Sering berdebat dan bercanda.
Gue dan Wiwid punya banyak kesamaan. Sama-sama perempuan, sama-sama orang Jawa, sama-sama orang Indonesia, sama-sama orang Islam, bahkan sama-sama berjilbab. Budaya yang kami pahami tak banyak berbeda, yaitu budaya ketimuran Asia. Sekalipun Wiwid telah menikah dengan orang Australia, dia tak banyak berubah. Lain halnya sama Jared, dia pria Amerika yang sangat liberal. Dia adalah keturunan Yahudi tapi tidak lagi menganut ajaran agama keluarganya. Meskipun mempercayai Tuhan, dia tidak memiliki agama (agnostik).
Berbincang dengan Jared berarti mempelajari pandangan seorang agnostik. Dia tak percaya kepada agama karena katanya agama itu dibuat manusia. Meskipun begitu, dia mengambil ajaran-ajaran yang baik dari Yahudi, Islam, Budha, dan agama lain.
“So, who is your God?”
“Humanities and Science,” jawab Jared.
Jared sudah berumur sekitar 27 tahun, selisih sekitar 4 tahun lebih tua dari gue dan Wiwid. Dia pasti sudah melewati masa kebimbangan tentang Tuhan, Agama, dan hal-hal spiritual lain. Katanya, orang Amerika, semakin berpendidikan, semakin tidak percaya agama. Mereka pikir agama itu sesuatu yang kuno dan tidak logis.
Perbicangan kembali bergulir di suatu pagi ketika breakfast. Gue, Jared, dan Jacob pergi ke toko sandwich, sementara Wiwid masih tidur. Awalnya gue bilang kalau kami terlambat bangun untuk berdoa (shalat). Jacob nanya apa aja yang jadi doa gue. Yeah, gue jawab hal-hal normal saja seperti, “Thank God, I’m still alive! Hopefully I’m doing well today.” Jared nambah pertanyaan, “To be grateful for all blessings?”
“Yes, right! Just communicate to God,” gue jawab lagi.
Kemudian aku nambahin lagi, kalau punya pacar aja harus menjaga komunikasi, apalagi punya Tuhan. Tapi tidak perlu melakukan shalat (ritual prayer) pas lagi menstruasi. Jared menimpali, “Oh, that’s strange.” Aku tambahin lagi, begitu juga untuk puasa, perempuan muslim yang lagi menstruasi nggak boleh puasa. Jared,“Because it can be dangerous, right?” Gue ngangguk aja.
Hmm, gue mikir lagi. Oh iya iya. Selama ini kalau sedang menstruasi nggak boleh puas. Kirain cuma sekedar haram. Ternyata ada hikmahnya. Kasian juga kalau cewek menstruasi disuruh puasa, udah kehilangan darah, ga boleh makan juga. Kan bisa lemes banget. Makanya diharamkan berpuasa. Oh, I just realized there’s logic in religion rule.
Seketika gue jadi sadar. Kalau Jared itu mikir suatu ajaran agama dari logis atau tidaknya, sedangkan gue melihat dari boleh atau nggak boleh menurut Islam. Ada baiknya berpikir ala Jared. Gue teliti lagi logis tidaknya hukum Islam. Misalkan: larangan konsumsi alkohol. Alkohol kelihatan fun tapi kalau dilegalkan, apa kabar? Rokok dilegalkan di Indonesia aja udah nyengsarain banget. Di Jakarta aja orang ngrokok sembarangan, tua-muda-anak-anak, wanita-laki-laki. Paru-paru kotor. Nah, kalau alkohol dihalalkan, apa kabar Indonesia? Orang bakal mendhem dimana-mana. Logis kan kalau diharamkan? Dari sini, gue melihat agama sebagai “penjaga” dunia. Walaupun kelihatan old-fashioned, tetap saja agama mengandung banyak wisdom (kebijaksanaan).
Seperti dalam mengurus jenasah, hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi suatu kelompok). Kalau hukumnya mubah (boleh dilakuin boleh tidak dilakuin), entar kagak ada yang mau ngurusin. Kasian kan nggak ada yang ngubur jenasah. Kalau hukumnya fardu ‘ain (wajib bagi setiap orang), malah jadinya repot, satu mayat dimandikan orang sekampung. Satu mayat masak mau dikubur orang sekampung? Ga mungkin kan. So, yang paling logis memang fardhu kifayah.
Terus pas suatu malam, kita ngobrol lagi. Wiwid nanya tentang Yahudi ke Jacob. Sekalipun berulangkali dia bilang dia bukan lagi beragama Yahudi, tetep aja si Wiwid ngurek-urek. Penasaran aja. Akhirnya dapat pengetahuan kalau agama Yahudi dan Islam itu banyak samanya. Sama-sama nggak boleh makan babi, alkohol, dan yang harmful. Mereka juga punya semacam sertifikasi halal pada kemasan, disebut kosher (walaupun mungkin ada perbedaan). Mungkin karena root-nya sama kali ya. Wiwid nanya lagi, “So, if I don’t believe in Islam anymore and leave my hijab. Can I convert to Jews?”
“No!” jawab Jacob.
“Why not?”
Jacob menjelaskan Yahudi tak sekedar agama, tapi juga menyangkut ras yahudi. Orang pribumi Indonesia tidak bisa menjadi Yahudi. Hmm, agak rasis juga. Dari sisi ini, Islam atau kristen lebih universal.
Terus kata Jared. Kalau mau tahu tentang Yahudi, baiknya nonton film Fiddler on the Roof yang bercerita tentang kehidupan orang Yahudi di Rusia. Para bapak bekerja keras mencari nafkah, para ibu mengurus rumah dan anak, sedangkan para anak perempuan belajar dari ibu hingga siap menikah. Mereka menjaga tradisi dan ajaran agama Yahudi hingga akhirnya terjadi pengusiran.
Yap, dalam sejarah, orang Yahudi diusir dari daratan Eropa. Sebagian berlari ke Amerika hingga akhirnya banyak berjaya di benua baru itu. Sesekali Wiwid melempar pertanyaan kenapa banyak orang benci Yahudi. Menurut sejarah, rabi-rabi Yahudi mempengaruhi kerajaan Romawi untuk membunuh Yesus. Dengan nada bercanda Wiwid menyelutuk, “Jews killed Jesus, right?”
“Yes, we killed him.” seru Jacob.
“Why did you kill?”
“And why did you killed Chinese?” balas Jacob merujuk tragedi 1998 di Indonesia.
Ungkapan bunuh membunuh itu kami lepaskan dalam candaan. Sarkasme. Betapa bodohnya saling membunuh hanya karena urusan rasis atau diskriminasi agama. Sampai-sampai orang mikir itu disebabkan oleh agama-agama di dunia.
Gue nggak maksud menyamakan atau membandingkan kepercayaan atau agama satu sama yang lain. Tapi ini yang gue pelajari dari obrolan dengan Jared dan Jacob. Gue menghargai jati diri mereka yang berdarah Yahudi. Secara personal gue nggak benci keturunan Yahudi sekalipun gue menentang kependudukan orang Yahudi atas Palestina (atas alasan kemanusiaan). Gue juga menghargai pilihan mereka menjadi agnostik walaupun gue tetap dengan iman gue.
Belajar dari agama/keyakinan lain bukan hal yang salah untuk saling memahami. Intinya, jadi orang agnostik atau religious, yahudi atau non-yahudi, semuanya terserah aja dan pilihan masing-masing. Semoga orang saling menghormati. Nggak ada agenda untuk saling membunuh.
















