Posted in Campur-campur

Kekuatan Sebuah Doa

Percaya nggak sama doa? 

Percaya nggak percaya lah ya, tergantung kondisi iman. Gue sendiri sering ngrasain kuatnya beberapa doa yang pernah gue panjatkan. Kebanyakan doa gue sih berisi permintaan ini permintaan itu. Kadang terkabul dengan jelas, kadang terkabul secara tersirat dalam takdir yang baik. Yap, intinya sih gue meyakini hampir semua doa gue terkabul. Yang nggak terkabul itu kadang doa-doa gue yang jelek, yang kadang gue utarakan kalau lagi marah atau ngambek sama orang. Gue ngedoain dia yang jelek-jelek. -_-

Di sini gue mau curhatin beberapa doa gue yang terkabul. Dan entah kenapa gue merasa doa itu sangat berefek. Contohnya waktu gue kuliah di Kampus UI Depok, sekitar tahun 2008. Sebagai anak rantau, kehabisan duit adalah hal yang lumrah. Suatu malam gue bingung mau makan apa. Uang saku gue tinggal kurang dari 10 ribu kalau nggak salah. Gue nggak punya keluarga di sekitar Jabodetabek, jadi nggak bisa numpang makan. Gue galau mau telepon minta kiriman uang apa enggak. Soalnya, gue dulu udah janji nggak bakal banyak ngrepotin keluarga kalau diizinin kuliah di UI. Kadang-kadang gue dapat part-time job buat ngelesin anak SMA. Tapi waktu itu lagi sepi. Jadinya, gue waktu itu hanya termanggu di tangga Asrama UI. Dalam hati gue pun curhat sama Gusti Allah malam ini.

Tak lama setelah itu, datang seorang temen gue nyamperin gue yang termenung. Sebut saja namanya Ayu. Dia menanyakan beberapa tugas kuliah. Ngobrol ngalor-ngidul di tangga asrama. Gue mau curhat sama Ayu kalau duit gue habis, tapi nggak berani. Tak lama kemudian, ada cewek memanggil Ayu dari jauh dan nyamperin.  Ayu yang ceriwis langsung ngobrol sama cewek itu. Gue sih nggak kenal, jadi cuma senyum memperhatikan. Ternyata, si cewek itu bawa nasi kotak dari suatu acara dan nasi itu diberikan ke Ayu. Ayu bilang makasih, terus cewek itu pergi ke kamar asramanya.  Tak disangka Ayu bilang ke gue, “April, mau nggak nasinya? Ayu udah makan malam, buat April aja deh!”

Tentu saja gue terima dengan sangat bersyukur. Gue sangat terharu. Nasi kotak mungkin tak sebegitu berharga buat orang lain di saat yang lain. Tapi saat itu gue merasa doa gue bener-bener dikabulkan. Rasanya bahagia banget. Kelihatannya mungkin seperti kebetulan. Tapi apapun itu gue percaya doa gue didengar.

Setelah pengalaman bokek malam itu, gue masih dihantui pertanyaan, “Mau makan apa? Duit tinggal segini?”

Keesokan harinya gue diajak jalan sama temen gue yang lain. Sebut saja namanya Emma. Si Emma bilang dia bosen di Asrama melulu. Dia pengen ditemenin makan bakso di gang Senggol Pocin. Sebenernya gue mau menolak karena duit gue tinggal dikit. Tapi entah kenapa gue mengiyakan. Jadilah kami makan bakso berdoa. Gue sambil berdoa, semoga duit gue cukup. Selesai makan bakso, si Emma bilang, “April, kali ini gue yang traktir ya! Makasih udah ditemenin ke sini.”  Syukurlah, selalu ada rejeki untuk anak yang inshallah soleh XD.

Rasa galau nggak bisa makan itu sedikit hilang setelah gue dapat SMS dari seorang kakak kelas. Beliau menanyakan nomor rekening karena ternyata aplikasi beasiswaku diterima. Gue pun membalas dengan sangat bahagia. Beberapa hari kemudian, gue mengecek rekening. Ada duit 300 ribu masuk. Alhamdulillah. Gue pun mengirim SMS ke kakak kelas kalau gue udah dapat transferan 300 ribu. Kakak kelas itu membalas, “Lho Pril! Uang beasiswanya x,y juta, belum saya transfer”.

Usut punya usut ternyata duit 300 ribu itu duit dari nyokap.  Alhamdulillah, selamet. Gue seneng dapat transferan tanpa harus meminta ❤

Nah, doa yang gue panjatkan, nggak melulu soal hidup yang penuh kebokekan. Kadang gue minta sesuatu yang agak ambisius. Kadang juga hal sepele, tapi nggak kalah penting. Misalnya, waktu mau pindah ke Finlandia bulan Oktober 2016. Gue berdoa banget biar gue dapat roommate yang baik. Berkali-kali berdoa.

Masalah roommate mungkin hal yang sepele. Tapi gue bener-bener nggak mau punya masalah dengan roommate. Waktu itu gue sudah kebanyakan masalah, dengan temen-temen gue, baik yang di Indonesia maupun beberapa orang di Jerman. Jadi, gue bener-bener pengen memulai hidup yang baik di Finlandia. Gue tahu harus lebih selektif milih teman dan juga belajar lagi berteman yang baik.

Hampir semua mahasiswa di Finlandia yang tinggal di apartment ala student housing harus berbagi apartment dengan yang lain. Gue tahu gue bakal punya 2 roommate yang lain. Beberapa teman yang sudah di Finlandia curhat soal masalahnya dengan roommate. Kan kayak gitu, bisa bikin nggak nyaman di apartment.

Alhamdulillah, setelah pindah, ternyata gue dapat 2 roommate orang Finlandia yang baik dan asyik. Yang satu mahasiswi Arsitektur dan yang satunya lagi mahasiswi Biologi. Kami kadang berbagi makanan. Kami saling bantu. Sewaktu gue ke Jerman selama seminggu, mereka menyiram tanamanku secara rutin. Jadi, pas aku balik, rimbun banget tanamanku. Alhamdulillah ya.

Dari semua itu, gue meyakini doa punya kekuatan yang berpengaruh ke hidup kita.  Maksud gue, ada Dzat yang Maha Kuat yang ngabulin doa itu.  Asalkan sungguh-sungguh berdoa, inshallah dikabulkan.

Posted in Campur-campur

Menghargai Pekerjaan Orang

“Kalau testing doang, anak magang juga bisa. Ngetest software, gaji UMR juga cukup.”

Software testing memang kelihatan sepele sih, “tinggal” nyari kesalahan atau kelemahan software. Sekilas jauh lebih susah proses bikinnya, ketimbang ngetestnya.Gue pun nggak berharap untuk terlalu dihargai ketika harus ngetest aplikasi atau software. Apalagi gue tahu diri kalau technical skills yang gue miliki emang nggak sekeren temen-temen gue. Sejujurnya gue emang kurang pede di bidang IT. Jadi, wajar kalau dipandang sebelah mata.

Apapun itu, gue berusaha perfeksionis. Sebelum launching, bos gue yang lain berpesan, “Periksa yang bener ya, Pril! yang teliti ya.” Ya gue nggak boleh ngecewain dia. Gue harus nglakuin yang terbaik. Kalau gue nemu bugs selama development, ya biasa aja, karena itu memang kerjaan. Tapi kalau udah launching, masih ada bugs,  bisa kelar hidup gue.

Setelah gue kuliah ke Jerman, gue jadi lebih ngerti pentingnya software testing. Mungkin karena demand lebih terasa.  Atau mungkin karena memang budaya Jerman? Ya, menurut gue, budaya Jerman emang menekankan pentingnya investasi pada kualitas. Di kuliah, professor gue selalu mengingatkan pentingnya kualitas, “You are not just an engineer. You’re a professional engineer. You should know  your decision and its impact on the quality of your product.”

Pada akhirnya, orang akan sadar kalau “rework” (akibat kualitas yang ngga bagus) bisa ngabisin banyak effort. Kebayang, kalau suatu apps udah di-launch di Google Play Store, terus ternyata masih banyak bugs, jadi dapat rating jelek atau orang jadi re-install. Mahal juga harga yang harus dibayar buat dapat rating bagus dan orang install lagi. Ya, intinya invest ke kualitas itu penting. Ini sesuai sama pepatah Jerman, “Das Billige ist immer das Teuerste.”(Yang paling murah justru selalu  yang paling mahal).

Balik lagi ke software testing, kerjaan ini konon dipandang sebelah mata di Indonesia. Suatu hari gue ngobrol sama temen gue.

Gue: “Tuh, ada lowongan software tester.”

Temen: “Nggak mau ah jadi tester, ntar kalau balik ke Indo, software testing itu kurang dihargai.”

Gue: “Ya, itu kan dulu. Masak sampe sekarang belum dihargai.”

Gue sih masih berpikir positif. Mungkin sekarang di Indonesia, pekerjaan “software tester”, “software quality control”, “software quality assurance”, dan sejenisnya makin dihargai, karena untuk melakukannya butuh ketelitian, skills, dan sebagainya.

Selain software tester, kerjaan yang kadang agak kurang dihargai adalah customer service officer (CSO). Ga selalu tapi kadang kurang dapat simpati. Susah lho melayani customer bete atau bermasalah, apalagi kalau budayanya “customer adalah raja”. Kadang memang customernya yang salah. Kadang mereka nggak salah, tapi kurang mengerti cara kerja layanan kita, jadi ngambek. Kadang customernya sabar, tapi sistem layanannya memang susah dimengerti. Nah, tugas gue waktu itu melakukan improvement agar sistem dimengerti customer sehingga mengurangi komplain  customer dan CSO nggak kewalahan menangani komplain mereka. Tapi apa daya, ide gue untuk memperbaiki sistem juga nggak dihargai, “yang komplain cuma 10, nggak ratusan.”  Hmm, emang ga semua orang ngerti harga customer yang kecewa dan beratnya tugas CSO yang melayani mereka.

Sebenernya gue dapat pelajaran untuk bisa empati sama pekerjaan orang lain sekitar 7 tahun lalu. Tepatnya pas 4 July 2010, gue menyaksikan perayaan Independence Day-nya Amerika Serikat di Tucson, Arizona. Gue dan temen-temen pergi ke mountain A. Di situ ada pertunjukan firework. Kami jalan-jalan aja di sekitar mount A sambil menunggu puncak acara. Lumayan ramai. Ada banyak kegiatan di situ, termasuk ada sekelompok anak muda yang break dance gitu.

Nah, kira-kira 2 jam sebelum  pertunjukkan firework, orang-orang udah duduk di tempat duduk yang disediakan. Gue mulai penasaran, ini lama juga ya nunggunya. Terdengar masih ada yang break dance, terus gue ngeluh sedikit, “Apaan sih, ga berhenti, berisik.” Keluhan gue jelas mengarah ke cowok-cowok yang break dance. Emang udah agak boring sih, menurut gue. Tiba-tiba temen gue ngebalas keluhan gue, sebut saja namanya Habib.

Habib bilang, “Jangan gitu pril! Jelek atau bagus, mereka kan berkreativitas.  Jangan gitu, April harus  bisa nghargain kerjaan orang. Mereka nyari duit, nggak gampang lo nyari duit.”

Gue tersipu malu. Gue belajar buat nggak memandang rendah pekerjaan yang kelihatannya sepele. Kenyataannya, banyak orang yang berusaha sebaik mungkin untuk pekerjaaannya. Now, I wanna say, “Makasih mas Habib, udah ngingetin aku yang dulu galak dan egois ^_^”

Posted in Campur-campur

Gagal PDKT

Ini curhatan gue tentang beberapa cowok yang coba PDKT, tapi akhirnya gue malah malas dan merasa terlecehkan somehow. Cowok-cowok yang gue bahas di sini kebetulan temen deket, tapi ga deket-deket banget karena ternyata nggak tahu sifat asli gue. Statusnya semua udah gue friendzoned. Gue kejam dan sombong sih, tapi inshallah mereka memang bukan buat gue. Sampai sekarang, masih terekam di memori gue, obrolan nggak bermutu dengan mereka. Kurang lebih kayak gini.


Cowok:  “Rambut lo dipotong ya?”

Gue : “Iya.”

C : “Jelek tahu.”

G: “Biarin. I am okay to be imperfect.”

C: “Jangan dipotong, bagusan panjang.”

G. “Apa sih?”

C: “Jangan dipotong dong. Cewek rambut pendek itu kayak Lesbi.”

// Seketika gue jadi bete dan jengah banget. Cowok ini memang temen deket gue kemana-mana, tapi dari awal udah gue tegasin, gue nggak bisa sama dia. Tapi malah sering modusin, gue pun terpaksa jaga jarak. Sekalinya ketemu lagi, dia bahas model rambut gue yang dia nggak suka. Yaelah, siapa lo ngatur-ngatur gue?


Cowok: “Lo dulu kalau pacaran gimana?”

Gue: “Maksudnya?”

C: “Nakal ga pacarannya? Lo masih perawan nggak sih?”

G: “What???”


Cowok: “Sepupu gue yang tinggal di kota A, teteknya gede banget.”

Gue : (inhales deeply)

C: “Sepupu gue itu, ukuran branya **, kalau lo ukuran bra-nya berapa?”

// Rasanya gue pengen nampar ini cowok. Gue benci banget. Sumpah, dia baru PDKT udah kayak gitu: Ya gue tahu, banyak orang ngobrol yang mesum-mesum, tapi nggak segitunya kales, ada batasnya.


Sejujurnya baru kali ini gue ngalamin begini, dilecehin temen sendiri. Ya cuma secara verbal, tapi jadi kaget. Selama tinggal di Indonesia, gue punya banyak temen cowok yang deket. Alhamdulillah, semuanya menjaga gue dan nggak pernah ada yang nggak sopan begitu.

Sejak gue pindah ke Europe, justru ada cowok yang “well-educated”dan kuliah di luar negeri ngomong  begitu sama gue. Makin lama makin modus dan nyebelin. Ya gimana gue mau tertarik, yang ada sekarang gue jijik, nggak mau ketemu lagi.

Gue nggak bermaksud jadi “super-picky”. Tapi emang gue nggak bisa toleransi sama orang yang melecehkan, anti-feminism, dan nggak tahu cara menghormati cewek. Susah dipercaya, tahun 2017, masih kuno begitu.

Tujuan gue posting begini biar buat pelajaran aja, yang sopan sama cewek. Jaga mulut biar nggak bikin kesel. Dan kalau nggak mau gagal PDKT, mending belajar dulu cara menghormati cewek.

.

Posted in Campur-campur

9 January 2017

Suatu hari di Indonesia, 9 January 2017.

Someone: “Kenapa kita ada di sini? Kenapa kita nggak di rumah aja? Bicara di rumah, kekeluargaan. Kenapa kamu pakai pengacara segala?”

Me: “Di rumah? Kekeluargaan?”

S: “Ya kan kita keluarga, malu dilihat orang, kalau begini.”

M: “Apa kita keluarga? Saya tidak tahu kalau saya dianggap keluarga. Kalau keluarga, kenapa saya diusir? Kenapa saya mau dibunuh?”

S: “Siapa yang bilang begitu? Itu isu, Nduk. Jangan percaya apa kata orang. Aku ini haji, duk, nggak mungkin begitu. Sekarang, kamu ngakuin saya keluargamu gak?”

M: “Saya gak tahu keluarga itu apa dan siapa. Kenapa saya diusir? Kenapa, saat pemakaman Bapak saya, nama saya gak disebutin? Kenapa nggak boleh ada yang menyebut nama saya? Waktu Bapak saya di rumah sakit, kenapa dibentak, nggak boleh nyebut nama saya? Kenapa sampeyan berbuat seperti itu?”

S:” Aku nggak ngerti, Nduk. Aku nggak tahu apa-apa. Yang ngurus pemakamannya itu orang-orang desa, orang Masjid. Bukan aku.”

M: “Jadi bukan sampeyan?”

S: “Bukan. Aku nggak tahu apa-apa, nggak tahu kalau begitu.”

M: “Hmm, saya mahasiswa, saya dilatih bicara,  pakai fakta.”

S: “Sumpah demi Allah. Bukan aku yang begitu.”

M: “Karena nggak ada yang mau ngaku, saya nggak bisa memaafkan. Saya sangat sakit hati, siapapun yang melakukan itu, akan saya nuntut di pengadilan, pengadilan akhirat.”

S: “Ya, silakan. Aku nggak tahu apa-apa, nggak tahu kamu. Kamu, katanya kamu ke Jerman. Atau kemana? Kenapa nggak ada waktu Bapakmu sakit”

M: “Saya, waktu itu kuliah di Jerman.”

S: “Di Jerman?”

M: “Ya.”

S: “Kamu bukannya sembunyi di Jakarta?”

M: “Ngapain saya sembunyi? Saya nggak pernah sembunyi, saya cuma nyari waktu yang tepat untuk pulang. Tapi waktu itu memang saya sedang di Jerman.”

S: “Bisa lihat paspormu? Apa ada cap Jermannya.”

M:” Hahaha, what? Mau ngecek kayak petugas bandara?”

S: “Mau lihat paspormu.”

M: “Saya nggak bisa nunjukkin paspor ke sembarang orang. Saya bukan orang bodoh. Tapi saya bisa nunjukkin kartu residence permit.”

S: (lihat kartu residence permit) “Hmm, jadi, kamu sibuk di Jerman? Kamu sibuk terus, belum ada baktinya. Bapakmu sakit, tapi malah sibuk di Jerman.”

M. “Hmm, don’t try to weaken me. It doesn’t work. Mungkin sampeyan perlu tahu. Seburuk-buruknya kelakuan saya, saya tetap anaknya Bapak saya. Saya sebenernya nggak punya waktu untuk drama kayak gini.”

Posted in Campur-campur

Staying Strong

This unpredictable life regularly gives me challenges and problems. There’re moments when I mostly just complained about the bad things. There’re many times when I was busy on counting my tears or being angry on some little unfair things. Sadness could take a coup over my soul easily. I found myself, I just grew weaker and weaker.

Fortunately, this life is also full of inspiration. I’ve seen and heard about many strong people who have faced more difficult problems than me. But they are stronger. Why?

Because they have decided to be strong. Yeah, stay strong.

Of course, my mother is the most influential and nearest inspiration of being strong in my real life. Her strength really has big contribution for my life. She is the one who focuses on finding solutions, instead of seeing difficult problems with tears. Sometimes she cries too, but her heart grows stronger.

Other inspiration is Nadya Hutagalung. She is my favorite Asian public figure and environmentalist. It looks like she has a very perfect life as a model, a VJ MTV, and a woman. But beyond ‘the perfect life’, she has experienced some tough relationships and even violence. I think it is because she decided to be strong, instead of dwelling on the past.

Some years ago I heard a story of a young girl in India. Her life changed after she had rejected a boy. When she was sleeping in her room, the rejected boy and two other boys came and poured acid to the young girl. What an unbelievable attack! She became blind and deaf. Around 70% of her body was burned. Her beautiful face were damaged. She was only 17yo. She suffered a lot mentally and physically. She was desperate and asked for euthanasia. Meanwhile, the boys who attacked her were only jailed for 4 month. I was so angry tho read this unfair story.

The story became much better, after the girl had decided to be strong. She has followed many surgeries with a lot of support from family and society. Her family has sold many things to pay her surgeries. She joined the mega quiz ‘Who wants to be a millionaire’. She wanted to show the world what an acid attack victim went through and looked like in India. She won 45.000 US dollars from the quiz and used it for surgeries. Now she fights for her justices. She can speak about women rights and protection. She can stand bravely against violence. She can do it because she is strong. She decides to be strong. She has really inspired me. I have big respect and love to this beautiful woman. Her name is Sonali Mukherjee.

Especially women, in this age of equality, there are still many women who fight for the rights. In some places of this world, some women just fight for a good, simple and normal life, but it could be so complicated. However, they keep fighting. Their strength keeps improving this world.

Every time I feel sad, powerless, and upset, somehow I can not do anything. When I found this world is painfully unfair, it is so difficult, even just to be strong. I have to look for the strength, the trick I do is by remembering many strong women, such as my mother, Nadya Hutagalung, or Sonali Mukherjee. And it works. Never give up on life ❤

Posted in Campur-campur

Makan Malam di Barcelona

Bulan April lalu gue berkesempatan transit di Barcelona lagi. Kali ini gue nggak nginep di hostel, tapi di rumah host Couchsurfing. Cuma 2 malam 1 hari sih, tapi seru. Malam pertama di Barcelona, gue baru datang dari Madrid, dijemput host, dan langsung istirahat. Ternyata, gue sudah ditungguin keluarga host, gue datang sudah larut malam. Bis ALSA jurusan Madrid-Barcelona lumayan nelat.

Keesokan harinya gue bangun pagi, ikut nganterin 2 putrinya host ke sekolah. Selanjutnya gue jalan kaki sendiri keliling Barcelona. Setelah capek jalan-jalan, sorenya gue mampir ke pasar tradisional di belakang La Rambla. Terus pulang ke rumah host. Sampai di rumah, gue diajak masak bersama dan makan malam bersama keluarga host.

Dua putri host sangat cantik dan pintar. Namanya Guida dan Abril, yang masing-masing berumur 8 dan 5 tahun. Si papa sudah tahu kalau gue nggak mau makan babi. Memang makanannya tidak ada yang mengandung babi sih, tapi ada suguhan wine. Dengan lemah lembut dia memberi tahu kedua putrinya dengan bahasa Catalan.

Papa : “Jadi, April ini seorang Muslim, dia tidak boleh makan babi, juga minuman beralkohol.”

Guida: “Por que, papa?”  // kenapa, Papa?

Papa : “Karena menurut Islam, itu tidak bagus untuk mereka. Orang Yahudi juga ada yang tidak makan babi. Di India, ada banyak orang Hindu. Kalau orang Hindu, mereka tidak diperbolehkan makan sapi. Jadi, di dunia ini ada orang yang berbeda-beda. Kita harus menghargai apa yang orang lain yakini, walaupun berbeda. ”

Gue yang mendengar percakapan itu jadi terharu dan senang. Alangkah indahnya kalau semua orang tua membesarkan anaknya dengan kasih sayang, rasa menghargai, dan toleransi. Pasti dunia jadi lebih baik.

Nggak cuma itu, gue suka dengan parenting yang diterapkan keluarga ini. Gue kan ngomong pakai bahasa Inggris, dicampur aduk bahasa Jerman yang kacau. Kadang gue juga ngomong pakai Bahasa Spanyol untuk kalimat-kalimat yang sederhana. Pokoknya kacau deh, sebelas dua belas sama Cinta Laura. Dengan sabar, sang orang tua selalu meneterjemahkan apa yang gue ucapkan ke Bahasa Catalan/Spanyol. Jadi, dua bocah cantik itu mengerti dan selalu dilibatkan dalam percakapan kami. Gue melihat orang tua sangat menghargai perasan dan opini sang anak.

Si kakak Guida sudah menunjukkan sikap yang bertanggung jawab. Dia anak yang teroganisir. Bangun pagi sendiri dan mandi sendiri tanpa perlu dibujuk-bujuk lagi.  Sebelum tidur, biasanya dia rutin membaca buku. Dia memang suka membaca buku. Dia juga pendiam, tapi lebih banyak berbuat. Contohnya, ketika papanya nawarin gue, “Apa mau pisang?” Gue jawab. “Si, te queiro” (Ya, mau). Guida langsung mengambil pisang dan memberikannya ke gue tanpa sepatah kata. Gue bilang, “Gracias!” Baru deh dia jawab, “Denada!” Kalau ketemu Guida, gue senang menyapanya, “Que tal?” yang artinya “Apa kabar?” Dengan tersipu malu, dia akan menjawab, “Bien. Y tu?” (Baik, dan kamu?)

Kalau si Abril, lebih banyak ngomong dan lebih santai dari kakaknya. Dia suka iseng dan selalu terlihat ceria. Dia lebih deket ke Papanya. Dia sering manja dan memeluk papanya, “Como estas, Papa?” (Apa kabar, papa?). Setiap kali dipanggil, “Abril!”, dia akan membalas dengan senyuman termanis. Mukanya mirip Hermione. Si Abril masih harus digendong agar mau sikat gigi atau siap-siap ke sekolah. Kedua anak memang punya sifat yang beda, tapi sama-sama menyenangkan, bisa bersikap, dan punya kelebihan masing-masing.  Subhanallah, keluarga yang manis

Setiap kali inget 2 bocah itu, hati gue terasa masih nyangkut di Barcelona.  Me encanta, Barcelona!

Barcelona April 2016

Posted in Campur-campur

Jilbab

Hopefully it is gonna be my last post about jilbab. I am so tired to talk about it. So, gue mau blak-blakan aja di sini.

Sepanjang tahun ini gue dapat banyak pertanyaan soal ini. “April, kamu lepas jilbab? Kenapa lepas? Kepanasan di Jerman? Jilbabnya dicuri?” Bahkan ada yang mengolok-olok, menyindir, bahkan preaching alias menceramahi.  Mungkin maksud peduli, tapi sebenernya disrespect. Jahat. Di FB, kalau ada yang komen begituan, langsung gue hapus. Itu juga alasan kenapa gue nggak ngasih tahu nomor Jerman gue ke banyak orang.

Biasanya gue nggak pernah mau menanggapi. Menurut gue itu bukan pertanyaan atau pernyataan yang sopan karena masuk ranah pribadi. Gue nggak mau jawab, tapi malah ditanyain terus. Padahal, kalau gue diam itu artinya marah atau nggak suka lho. Udah gue balas,” I don’t want to answer questions regarding my religious views, not your business.” Tapi memang nggak semua orang ngerti kalau pertanyaannya itu mengganggu. Gue sudah pernah bilang di path, gue nggak suka pertanyaan semacam itu. Nggak nyaman. Kok diulang terus sih?

Tapi okelah, kali ini gue mau jawab. Alasan pertama, gue punya pandangan agama yang lebih liberal terhadap praktik agama Islam. Gue melihat Islam punya interpretasi dan praktik yang luas, tetapi punya inti yang sama. Inti itu yang pengen gue kejar. Gue ikhlas dikatain JIL atau apapun. Kenyataannya gue nggak tahu JIL itu apa.

Gue akuin dulu gue pernah nyoba jadi orang yang konservatif. “Gimana ya kalau stick sama agama, yang disebut menjalankan agama secara kaffah?” Gue bahkan mencoba nggak pacaran, berhenti belajar musik. Sampe segitunya. Ternyata, memang kurang match ama gue dan kontradiktif sama kepribadian gue. Gue ikut liqo atau tarbiyah, tapi gue juga sering nongkrong di cafe, cipika-cipiki sama temen geng gue, yang cowok maupun cewek.

Mayoritas temen emang nggak tahu, kalau gue ini tipe “experimental”. Jadi banyak yang kaget. Gue tuh dulu sering nyobain hal-hal baru, pakai jilbab panjang, pakai jilbab yang gaya, pengen ikut pengajian ini itu, ke pesantren, ke pemukiman kumuh di Cilincing, hunting foto di Pasar Senen, ikut seleksi Indonesia Mengajar, bolos kuliah demi nemenin temen casting, pergi ke Jogja demi nemenin temen nembak cewek. Dari segi kerjaan, gue juga udah coba berbagai macam perkerjaan sekedar buat nambah uang jajan atau tahu, mulai dari jualan jilbab, bensin, donat, jadi pelukis jalanan, karyawan restaurant, sampai jadi baby sitter. Yang agak nakal juga gue coba, minum bir dan ngrokok. Ngebir sempet ketahuan om gue, dia nggak marah, “Ya namanya juga anak muda, asal jangan ngedrugs, kalau udah itu susah obatnya.” Btw, gue deket sama om gue yang kebetulan kerja di bidang medis. Gue sering cerita sama om dan tante gue, nggak bisa bohong kalau sama mereka. Jadi, keluarga tahu kalau ada yang aneh-aneh sama gue. Beberapa temen gue ada yang nggak kaget, karena gue sering tukar pikiran soal agama sama mereka. Walapun secara fisik, mungkin gue jarang hang out sama mereka, tapi mereka tahu hobi “experimental” gue..

Banyak hal yang gue coba, dan kadang nggak gue publish atau nggak semua diketahui temen deket gue. Lagian, temen gue banyak banget dan sering gonta-ganti temen hang-out. Walaupun gue sering jalan bareng sekelompok temen deket, belum tentu mereka tahu apa-apa yang gue pikirkan atau lakukan, apalagi soal agama. Contohnya waktu, temen deket gue komen soal Asmirandah, ” Gila ya dia. Pindah agama. Lihat deh video ini. Dia ngomong di Gereja.” Waktu itu gue diam aja, nggak bilang setuju apa enggak.   Atau waktu temen gue M yang stalking si S yang lepas jilbab, “Ya Allah, dia lepas jilbab. Pril, lo deket nggak sih sama dia, lo nggak ngingetin dia apa?” Gue yang duduk sebelahnya, diam aja. Kemungkinan giliran gue yang lagi di-stalking sekarang :p Intinya, you’ll tend to be inaccurate to judge me, bcos you don’t always know about what I have thought and done.

Alasan kedua, gue sekarang lebih suka menyembunyikan hal-hal berbau religious. Walaupun kadang gue pengen menyampaikan, “the wisdom and spirit of religion.” Gue pikir nggak perlu menampilkan sisi religious atau bentuk ibadah yang dilakuin. Menurut gue, agama gue ya buat diri gue sendiri, bukan konsumsi publik. Secara general, gue pengen dilihat sebagai “a human being” alias selayaknya manusia. Gue nggak mau main label, “ini orang agamanya bagus”, “ini orang agamanya nggak bagus “, “ini orang nggak beriman”, “dia mayoritas”, “dia minoritas”, “dia lebih solehah”. Menurut gue itu bikin separation yang berlebih. Kenyataannya memang susah menghindari labeling. Bukannya kita semua manusia, bukan kaleng?  Label “liberal”, “konservatif”, atau “moderat” sebenernya juga pengen gue hindari, tapi kadang-kadang gue terpaksa gue pakai sekedar untuk bisa memahami orang.

Beberapa orang mikir gue lepas jilbab bukan karena gue depresi dan kehilangan hidup. I have to say “Thank you”, but that’s not my style, really. I am not the one who is dwelling on the past for a long period time. Setiap orang pasti mengalami masa-masa susah dan bisa gila sementara waktu, gue pun begitu, tapi gue orang yang gampang move on. Sejauh apa yang gue alami, gue tipe orang ENFP yang selalu bisa cari alasan untuk bangkit kembali dan menghibur diri. Satu lagi, keputusan gue nggak ada hubungannya dengan studi gue di Jerman. Bukan karena pengaruh seseorang atau mentang-mentang tinggal di luar negeri. Gue nggak merasakan ada kendala yang berarti buat pakai jilbab atau enggak di Jerman. Di amerika dulu juga gitu. Mau pakai jilbab apa enggak, diterima aja dengan gembira. Temen bule gue banyak, dan mereka asyik aja, gue mau pakai jilbab atau enggak. Ya, memang di luar negeri, agama adalah hak dan ranah pribadi masing-masing.

Justru di Indonesia, agak ribet kalau berpenampilan beda. Orang belum tentu bisa nggak bisa terima. Pernah gue ke kantor Tokopedia dan nggak pakai Jilbab. Pas pulang lewat stasiun Cawang, gue ketemu teman. Dia kaget, “April! Kok nggak jilbaban?”Dan kemudian dia hanya diam. Gue tahu konsekuensi nggak pakai jilbab. Orang-orang bakal susah menerima gue. Mungkin juga butuh waktu.

Di keluarga, nggak ada satu pun yang berani bertanya. Adik gue yang lulusan pesantren pun nggak pernah berani komentar apalagi preaching. Sepupu gue yang “akhwat” juga masih asyik-asyik aja. Ada juga beberapa teman yang pakai kerudung panjang, mereka masih say hello sama gue. Suatu hari gue nanya gini ke salah satu teman Sunda, “Teteh, masih mau nggak temenan sama aku?” Dia bilang, “Ya, tentu. Kenapa nanya begitu?” Gue bilang, “Aku kan udah nggak pakai jilbab?” Teteh jawab, ” Namanya juga proses. Teteh menghargai kamu.  Teteh sayang sama kamu.”

Ada teman namanya O yang ngirim pesan,”April, gue mau nanya, tapi jangan marah ya? Gue orangnya terbuka kok.” Gue jawab, “Boleh. Mau nanyain jilbab ya?” Dia bilang iya. Terus gue cerita pandangan gue tentang jilbab, kemudian kami asyik bercerita. Sebenernya gue nggak deket amat sama si O, tapi gue nggak marah dia nanya begitu karena anaknya sopan dan asyik. Gue nggak masalah kok ngobrol asalkan jangan langsung ngejudge. Sekarang gue malah sering ngorbol sama O. Dia lebih asyik dan semangat buat hidup sehat dan positif.

Gue ngerti ada yang penasaran. Soalnya gue dulu sering pakai jilbab sejak kuliah di UI. Gue pun sudah menghitung risiko kalau gue nggak pakai, many of friends will reject me. Gue terpaksa unfriend sebagian, ketimbang bikin mereka galau. Gimanapun, gue menghargai orang yang mempraktikkan Islam secara konservatif, moderat, tradisional, klasik, modern, liberal, Islam KTP, Islam pesantren, atau gaya apapun. Terserah ngana sukanya gimana? Yang penting bukan praktik Islam secara fanatik, bigot, atau ekstrim membahayakan. Gue punya banyak teman yang bervariasi. Gue harus menghargai apapun yang mereka yakini. Beberapa orang masih gue pertahankan, walaupun nyindir gue:

“Anakku masih inget nggak ya sama Tante April. Tante April kan udah bajunya udah berubah sekarang.”

“Gimana ya pril ya. Gue malu, kalau nggak bisa menampilkan wajah Islam secara benar. Nggak bisa berpenampilan kayak muslimah yang baik.”

“Jilbab itu simbol intelektulitas. Buat gue sih, cewek yang cerdas itu yang mau pakai jilbab, bukan cewek yang jalan-jalan ke luar negeri, nggak pakai jilbab biar bisa dibilang gaul.”

Akhirnya gue diunfriend sama yang terakhir, haha…Gue juga yang sering unfriend orang sih..hahaha. Gue pikir secara general, gue masih April. In the end, kalau lo masalahin hidup gue, ya terserah lo sih. I could say “goodbye” to some people and “hello” to others.