Posted in Campur-campur

Kesehatan Mental

Sedih banget denger berit bunuh diri. Terakhir, Chester Bennington, vokalis Linkin Park diumumkan meninggal gantung diri. Gue berharap itu bukan berita benar. Tapi sepertinya benar, hiks. RIP, Chester. Aduh, siapa yang menyangka.

Banyak deretan artis terkenal bunuh diri.  Sebenernya, yang bunuh diri bukan cuma orang terkenal, tapi banyak juga orang biasa yang bunuh diri. Waktu gue pulang kampung bulan Januari 2017, ada 2 orang yang gantung diri di Kabupaten gue. Tahun sebelumnya, di kampung yang nggak jauh dari kampung bokap gue, ada seorang bapak yang bunuh dengan cara nenggak racun rumput liar. Beberapa bulan kemudian, salah satu anak laki-laki si bapak itu juga ikut bunuh diri dengan nenggak racun juga. Sedih banget.

Ya, bisa dibilang, bunuh diri itu risiko fatal orang yang lagi depressi atau putus. Kalau istilah medisnya, akibat kesehatan mental yang bermasalah.  Di sini, gue mau bahas soal kesehatan mental, sejauh yang gue tahu. Gue bahasnya dari kacamata orang yang awam aja. Gue kan memang bukan ahli medis atau anak psikologi. Dibandingin sama kesehatan fisik, kesehatan mental ini relatif lebih susah dilihat. Siapa yang tahu orang mentalnya sehat atau bermasalah? Kadang susah. Kita nglihatnya seseorang itu bahagia, sukses, dan hidupnya baik-baik saja. Tapi bisa jadi dia mengalami depresi berat, yang bahkan keluarganya aja nggak tahu.

Gue pernah ngobrol dengan salah satu om gue soal kesehatan mental. Kebetulan, om gue kerja jadi perawat sekaligus assistant dokter kesehatan jiwa di RSUD. Sebelumnya, om gue ini kerja di bagian operasi (surgery) selama 2 dekade lebih, tapi sekarang dia di bagian kejiwaan. Om gue bilang, “Sekarang kalau kerja, Om nggak pegang lagi alat-alat operasi. Stetoskop aja enggak. Sekarang, Om kerjanya pegang tissue. Tiap hari ngecek, tissuenya masih ada atau sudah habis.” Ya, karena di bagian kejiwaan, om nangani pasien-pasien yang depresi dan banyak yang nangis di klinik.

Gue pun penasaran, “Emang banyak ya om, orang yang sadar pentingnya kesehatan mental dan mau ke dokter? Aku pikir orang Indonesia masih belum banyak yang aware soal ini?” Om gue jawab banyak, bahkan kadang pasiennya membludak. Kliniknya selalu ramai. Beberapa kerabat pun pergi ke klinik itu. Tapi, biasanya om gue nggak nangani kerabat langsung. Karena kalau kenal, mereka sungkan jadi pasiennya om. Etikanya juga, om gue nggak boleh kepo sama yang bukan pasiennya.  Ya, kami ngobrol aja ngalir. Alhamdulillah, jadi banyak tahu.

Kata om gue, ada banyak bedanya nangani pasien nggak sehat badannya dengan yang nggak sehat mentalnya. Selain soal terlihat dan nggak terlihat, peran dokter (dan paramedis lainnya) juga cukup beda. Misal, pasien kecelakaan mungkin butuh banyak tindakan dari dokter. Kesembuhannya banyak tergantung dari tindakan dokter, mau diapain sangat tergantung dokter dan perawat. Ya kadang tergantung pasien juga, dia mau teratur mengikuti prosedur pengobatan apa enggak. Tapi umumnya tindakan dokter banyak ngaruh ke kesembuhan pasien.

Nah, kalau soal kesehatan mental, peran dokter dan perawat lebih sebatas “fasilitator”. Maksudnya, dokter harus memfasilitasi pasien gimana mereka bisa sembuh. Dokter bisa memberi motivasi dan  membantu rehabilitasi. Kadang juga memberi obat, tapi nggak terlalu banyak. Kesembuhan lebih banyak tergantung sama pasiennya. Misal, apa pasien kuat memotivasi diri untuk sembuh dari depressi. Apa pasien mau berusaha melawan rasa takut yang dideritanya. Sehebat-hebatnya dokter, kadang nggak mampu menyembuhkan, kalau pasien juga nggak berusaha buat sembuh. Kadang sudah berusaha aja, masih sangat susah sembuh. Dokter nggak bisa ngasih suntikan yang adakadabra, bisa sembuh gitu. Di situ bedanya, menurut obrolan sama om gue.

Om gue ngasih analogi, kalau hubungan dokter jiwa dan pasiennya seperti guru dan muridnya. Guru bisa memberi buku, pelajaran, dan motivasi. Berhasil nggaknya tergantung si murid. Apa dia mau belajar apa enggak. Kadang masalah kesehatan pun bisa jadi sangat rumit, apalagi kalau level depresinya sudah parah.

Gue punya temen yang agak bermasalah kesehatan mentalnya. Teman gue ini gampang banget khawatir. Dia sering ngkhawatirin hal-hal negatif yang belum terjadi. Sejak kecil dia sering “jirih” atau takut. Sekarang dia sering banyak takut, khawatir, atau memikirkan risiko hidup. Level khawatirnya sangat berlebihan. Misalnya, jauh-jauh dia telepon ke Eropa buat bilang ke gue, “April, kamu abis S2, jangan ambil PhD. Nggak usah ngambil S3. Nanti nggak ada cowok yang ndeketin kamu. Kalau kamu terlalu tinggi kuliahnya, cowok jadi minder, bla-bla.”

Gue yang ndengerin dia, langsung ambil nafas. Aduh sayang, ini kenapa sih? Tapi ya, akhirnya gue maklum, karena tahu temen ini memang banyak khawatir. Dia sayang sama gue. Dia takut gue nggak dapet jodoh. Padahal, gue santai aja. Gue nggak ada rasa khawatir, ada apa enggak cowok deketin gue. Jodoh kan termasuk takdir Tuhan. Inshallah, Tuhan kasih jodoh yang terbaik dari yang terbaik, nggak terlalu dirisaukanGue juga maklum, dia tumbuh di lingkungan pedesaan, yang pergerakan feminism sangat minim. Namanya juga pedesaan, katanya “pamali” kalau cewek terlalu pintar. In fact, I never feel that I am smart enough since I studied in UI 🙂 Lagian, siapa yang mau S3? Boro-boro S3 atau PhD. Orang ini baru S2 aja, udah ampet-ampetan. Rasanya, otak gue nggak terlalu mampu ngikutin pelajaran.

Di lain waktu, tiba-tiba dia ngirim pesan. Dia bilang kira-kira begini, “April, kamu jangan sama cowok yang nggak se-agama. Temen-temen kamu banyak yang non-muslim. Kamu jangan pacaran sama orang yang nggak Islam. Kalau nanti nikahnya sama yang se-agama ya.” Gue jadi kaget ya. Bukan soal gue pacaran ama siapa. Tapi gue kaget, kok dia sebegitunya mikirin dan khawatir sama gue. Ya, memang temen gue banyak, dari banyak agama. Tapi kan, gue nggak ada pacar non-muslim. Demi nenangin dia, gue bilang, “Iya, pacar gue inshallah Islam.” Ya, gue nggak pengen dia banyak khawatir. Mikir begini begitu, sampe segitunya. Gue minta dia nggak usah terlalu mikirin gue. Jodoh di tangan Tuhan. Nggak usah terlalu ngawatirin hal-hal yang belum terjadi. Ini jelas nggak baik buat dia sendiri.

Masalahnya jelas nggak ada di gue. Bukan soal gue mau ambil S3 atau berjodoh sama siapa. Masalahnya ada  di temen gue ini, yang terlalu banyak khawatir dalam hidup. Yang namanya hidup, ada banyak masalah dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Tapi kalau banyak khawatir, normalnya nggak gitu juga.  Kalau dalam bahasa Jerman, ada peribahasanya, “Den Teufel an die Wand malen“. Secara harafiah, artinya “melukis setan di tembok.” Maksudnya, “terlalu banyak memikirkan hal-hal pesimistis/negatif yang belum terjadi atau terlalu fokus sama skenario terburuk”. Akibatnya  jadi pesimis dan khawatir yang nggak perlu.

Temen gue ini juga tahu berbagai macam penyakit, dia pernah curhat takut jadi sakit dan mati muda. Padahal, kalau dilihat dari luar, hidupnya baik-baik aja. Memang, dia sedikit mengalami gangguan perut, tapi kan berobat terus. Suaminya juga baik supportif dan hebat, bahkan sering jadi imam muda di Masjid Kota. Anaknya cantik banget dan sehat. Usahanya yang dulu susah, sekarang sudah lancar dan bahkan bisa buka cabang. Tapi, entah kenapa dia merasa sering khawatir dan justru nggak bahagia. Akhirnya, dia sering ke klinik untuk memperbaiki kesehatan mental.  Itu lebih baik. Menurut gue, kalau terus-terusan dibiarin, dia bisa makin dijajah pikiran negatid dan khawatir. Gue berdoa, semoga Tuhan membantunya untuk sembuh dari khawatir-khawatir yang tidak perlu. Semoga kembali bahagia seperti dulu. Ya gue cuma bisa kasih support dari jauh dan mendoakan yang terbaik.

 

 

 

 

Advertisements
Posted in Campur-campur

Kekuatan Sebuah Doa

Percaya nggak sama doa? 

Percaya nggak percaya lah ya, tergantung kondisi iman. Gue sendiri sering ngrasain kuatnya beberapa doa yang pernah gue panjatkan. Kebanyakan doa gue sih berisi permintaan ini permintaan itu. Kadang terkabul dengan jelas, kadang terkabul secara tersirat dalam takdir yang baik. Yap, intinya sih gue meyakini hampir semua doa gue terkabul. Yang nggak terkabul itu kadang doa-doa gue yang jelek, yang kadang gue utarakan kalau lagi marah atau ngambek sama orang. Gue ngedoain dia yang jelek-jelek. -_-

Di sini gue mau curhatin beberapa doa gue yang terkabul. Dan entah kenapa gue merasa doa itu sangat berefek. Contohnya waktu gue kuliah di Kampus UI Depok, sekitar tahun 2008. Sebagai anak rantau, kehabisan duit adalah hal yang lumrah. Suatu malam gue bingung mau makan apa. Uang saku gue tinggal kurang dari 10 ribu kalau nggak salah. Gue nggak punya keluarga di sekitar Jabodetabek, jadi nggak bisa numpang makan. Gue galau mau telepon minta kiriman uang apa enggak. Soalnya, gue dulu udah janji nggak bakal banyak ngrepotin keluarga kalau diizinin kuliah di UI. Kadang-kadang gue dapat part-time job buat ngelesin anak SMA. Tapi waktu itu lagi sepi. Jadinya, gue waktu itu hanya termanggu di tangga Asrama UI. Dalam hati gue pun curhat sama Gusti Allah malam ini.

Tak lama setelah itu, datang seorang temen gue nyamperin gue yang termenung. Sebut saja namanya Ayu. Dia menanyakan beberapa tugas kuliah. Ngobrol ngalor-ngidul di tangga asrama. Gue mau curhat sama Ayu kalau duit gue habis, tapi nggak berani. Tak lama kemudian, ada cewek memanggil Ayu dari jauh dan nyamperin.  Ayu yang ceriwis langsung ngobrol sama cewek itu. Gue sih nggak kenal, jadi cuma senyum memperhatikan. Ternyata, si cewek itu bawa nasi kotak dari suatu acara dan nasi itu diberikan ke Ayu. Ayu bilang makasih, terus cewek itu pergi ke kamar asramanya.  Tak disangka Ayu bilang ke gue, “April, mau nggak nasinya? Ayu udah makan malam, buat April aja deh!”

Tentu saja gue terima dengan sangat bersyukur. Gue sangat terharu. Nasi kotak mungkin tak sebegitu berharga buat orang lain di saat yang lain. Tapi saat itu gue merasa doa gue bener-bener dikabulkan. Rasanya bahagia banget. Kelihatannya mungkin seperti kebetulan. Tapi apapun itu gue percaya doa gue didengar.

Setelah pengalaman bokek malam itu, gue masih dihantui pertanyaan, “Mau makan apa? Duit tinggal segini?”

Keesokan harinya gue diajak jalan sama temen gue yang lain. Sebut saja namanya Emma. Si Emma bilang dia bosen di Asrama melulu. Dia pengen ditemenin makan bakso di gang Senggol Pocin. Sebenernya gue mau menolak karena duit gue tinggal dikit. Tapi entah kenapa gue mengiyakan. Jadilah kami makan bakso berdoa. Gue sambil berdoa, semoga duit gue cukup. Selesai makan bakso, si Emma bilang, “April, kali ini gue yang traktir ya! Makasih udah ditemenin ke sini.”  Syukurlah, selalu ada rejeki untuk anak yang inshallah soleh XD.

Rasa galau nggak bisa makan itu sedikit hilang setelah gue dapat SMS dari seorang kakak kelas. Beliau menanyakan nomor rekening karena ternyata aplikasi beasiswaku diterima. Gue pun membalas dengan sangat bahagia. Beberapa hari kemudian, gue mengecek rekening. Ada duit 300 ribu masuk. Alhamdulillah. Gue pun mengirim SMS ke kakak kelas kalau gue udah dapat transferan 300 ribu. Kakak kelas itu membalas, “Lho Pril! Uang beasiswanya x,y juta, belum saya transfer”.

Usut punya usut ternyata duit 300 ribu itu duit dari nyokap.  Alhamdulillah, selamet. Gue seneng dapat transferan tanpa harus meminta ❤

Nah, doa yang gue panjatkan, nggak melulu soal hidup yang penuh kebokekan. Kadang gue minta sesuatu yang agak ambisius. Kadang juga hal sepele, tapi nggak kalah penting. Misalnya, waktu mau pindah ke Finlandia bulan Oktober 2016. Gue berdoa banget biar gue dapat roommate yang baik. Berkali-kali berdoa.

Masalah roommate mungkin hal yang sepele. Tapi gue bener-bener nggak mau punya masalah dengan roommate. Waktu itu gue sudah kebanyakan masalah, dengan temen-temen gue, baik yang di Indonesia maupun beberapa orang di Jerman. Jadi, gue bener-bener pengen memulai hidup yang baik di Finlandia. Gue tahu harus lebih selektif milih teman dan juga belajar lagi berteman yang baik.

Hampir semua mahasiswa di Finlandia yang tinggal di apartment ala student housing harus berbagi apartment dengan yang lain. Gue tahu gue bakal punya 2 roommate yang lain. Beberapa teman yang sudah di Finlandia curhat soal masalahnya dengan roommate. Kan kayak gitu, bisa bikin nggak nyaman di apartment.

Alhamdulillah, setelah pindah, ternyata gue dapat 2 roommate orang Finlandia yang baik dan asyik. Yang satu mahasiswi Arsitektur dan yang satunya lagi mahasiswi Biologi. Kami kadang berbagi makanan. Kami saling bantu. Sewaktu gue ke Jerman selama seminggu, mereka menyiram tanamanku secara rutin. Jadi, pas aku balik, rimbun banget tanamanku. Alhamdulillah ya.

Dari semua itu, gue meyakini doa punya kekuatan yang berpengaruh ke hidup kita.  Maksud gue, ada Dzat yang Maha Kuat yang ngabulin doa itu.  Asalkan sungguh-sungguh berdoa, inshallah dikabulkan.

Posted in Campur-campur

Menghargai Pekerjaan Orang

“Kalau testing doang, anak magang juga bisa. Ngetest software, gaji UMR juga cukup.”

Software testing memang kelihatan sepele sih, “tinggal” nyari kesalahan atau kelemahan software. Sekilas jauh lebih susah proses bikinnya, ketimbang ngetestnya.Gue pun nggak berharap untuk terlalu dihargai ketika harus ngetest aplikasi atau software. Apalagi gue tahu diri kalau technical skills yang gue miliki emang nggak sekeren temen-temen gue. Sejujurnya gue emang kurang pede di bidang IT. Jadi, wajar kalau dipandang sebelah mata.

Apapun itu, gue berusaha perfeksionis. Sebelum launching, bos gue yang lain berpesan, “Periksa yang bener ya, Pril! yang teliti ya.” Ya gue nggak boleh ngecewain dia. Gue harus nglakuin yang terbaik. Kalau gue nemu bugs selama development, ya biasa aja, karena itu memang kerjaan. Tapi kalau udah launching, masih ada bugs,  bisa kelar hidup gue.

Setelah gue kuliah ke Jerman, gue jadi lebih ngerti pentingnya software testing. Mungkin karena demand lebih terasa.  Atau mungkin karena memang budaya Jerman? Ya, menurut gue, budaya Jerman emang menekankan pentingnya investasi pada kualitas. Di kuliah, professor gue selalu mengingatkan pentingnya kualitas, “You are not just an engineer. You’re a professional engineer. You should know  your decision and its impact on the quality of your product.”

Pada akhirnya, orang akan sadar kalau “rework” (akibat kualitas yang ngga bagus) bisa ngabisin banyak effort. Kebayang, kalau suatu apps udah di-launch di Google Play Store, terus ternyata masih banyak bugs, jadi dapat rating jelek atau orang jadi re-install. Mahal juga harga yang harus dibayar buat dapat rating bagus dan orang install lagi. Ya, intinya invest ke kualitas itu penting. Ini sesuai sama pepatah Jerman, “Das Billige ist immer das Teuerste.”(Yang paling murah justru selalu  yang paling mahal).

Balik lagi ke software testing, kerjaan ini konon dipandang sebelah mata di Indonesia. Suatu hari gue ngobrol sama temen gue.

Gue: “Tuh, ada lowongan software tester.”

Temen: “Nggak mau ah jadi tester, ntar kalau balik ke Indo, software testing itu kurang dihargai.”

Gue: “Ya, itu kan dulu. Masak sampe sekarang belum dihargai.”

Gue sih masih berpikir positif. Mungkin sekarang di Indonesia, pekerjaan “software tester”, “software quality control”, “software quality assurance”, dan sejenisnya makin dihargai, karena untuk melakukannya butuh ketelitian, skills, dan sebagainya.

Selain software tester, kerjaan yang kadang agak kurang dihargai adalah customer service officer (CSO). Ga selalu tapi kadang kurang dapat simpati. Susah lho melayani customer bete atau bermasalah, apalagi kalau budayanya “customer adalah raja”. Kadang memang customernya yang salah. Kadang mereka nggak salah, tapi kurang mengerti cara kerja layanan kita, jadi ngambek. Kadang customernya sabar, tapi sistem layanannya memang susah dimengerti. Nah, tugas gue waktu itu melakukan improvement agar sistem dimengerti customer sehingga mengurangi komplain  customer dan CSO nggak kewalahan menangani komplain mereka. Tapi apa daya, ide gue untuk memperbaiki sistem juga nggak dihargai, “yang komplain cuma 10, nggak ratusan.”  Hmm, emang ga semua orang ngerti harga customer yang kecewa dan beratnya tugas CSO yang melayani mereka.

Sebenernya gue dapat pelajaran untuk bisa empati sama pekerjaan orang lain sekitar 7 tahun lalu. Tepatnya pas 4 July 2010, gue menyaksikan perayaan Independence Day-nya Amerika Serikat di Tucson, Arizona. Gue dan temen-temen pergi ke mountain A. Di situ ada pertunjukan firework. Kami jalan-jalan aja di sekitar mount A sambil menunggu puncak acara. Lumayan ramai. Ada banyak kegiatan di situ, termasuk ada sekelompok anak muda yang break dance gitu.

Nah, kira-kira 2 jam sebelum  pertunjukkan firework, orang-orang udah duduk di tempat duduk yang disediakan. Gue mulai penasaran, ini lama juga ya nunggunya. Terdengar masih ada yang break dance, terus gue ngeluh sedikit, “Apaan sih, ga berhenti, berisik.” Keluhan gue jelas mengarah ke cowok-cowok yang break dance. Emang udah agak boring sih, menurut gue. Tiba-tiba temen gue ngebalas keluhan gue, sebut saja namanya Habib.

Habib bilang, “Jangan gitu pril! Jelek atau bagus, mereka kan berkreativitas.  Jangan gitu, April harus  bisa nghargain kerjaan orang. Mereka nyari duit, nggak gampang lo nyari duit.”

Gue tersipu malu. Gue belajar buat nggak memandang rendah pekerjaan yang kelihatannya sepele. Kenyataannya, banyak orang yang berusaha sebaik mungkin untuk pekerjaaannya. Now, I wanna say, “Makasih mas Habib, udah ngingetin aku yang dulu galak dan egois ^_^”

Posted in Campur-campur

Staying Strong

This unpredictable life regularly gives me challenges and problems. There’re moments when I mostly just complained about the bad things. There’re many times when I was busy on counting my tears or being angry on some little unfair things. Sadness could take a coup over my soul easily. I found myself, I just grew weaker and weaker.

Fortunately, this life is also full of inspiration. I’ve seen and heard about many strong people who have faced more difficult problems than me. But they are stronger. Why?

Because they have decided to be strong. Yeah, stay strong.

Of course, my mother is the most influential and nearest inspiration of being strong in my real life. Her strength really has big contribution for my life. She is the one who focuses on finding solutions, instead of seeing difficult problems with tears. Sometimes she cries too, but her heart grows stronger.

Other inspiration is Nadya Hutagalung. She is my favorite Asian public figure and environmentalist. It looks like she has a very perfect life as a model, a VJ MTV, and a woman. But beyond ‘the perfect life’, she has experienced some tough relationships and even violence. I think it is because she decided to be strong, instead of dwelling on the past.

Some years ago I heard a story of a young girl in India. Her life changed after she had rejected a boy. When she was sleeping in her room, the rejected boy and two other boys came and poured acid to the young girl. What an unbelievable attack! She became blind and deaf. Around 70% of her body was burned. Her beautiful face were damaged. She was only 17yo. She suffered a lot mentally and physically. She was desperate and asked for euthanasia. Meanwhile, the boys who attacked her were only jailed for 4 month. I was so angry tho read this unfair story.

The story became much better, after the girl had decided to be strong. She has followed many surgeries with a lot of support from family and society. Her family has sold many things to pay her surgeries. She joined the mega quiz ‘Who wants to be a millionaire’. She wanted to show the world what an acid attack victim went through and looked like in India. She won 45.000 US dollars from the quiz and used it for surgeries. Now she fights for her justices. She can speak about women rights and protection. She can stand bravely against violence. She can do it because she is strong. She decides to be strong. She has really inspired me. I have big respect and love to this beautiful woman. Her name is Sonali Mukherjee.

Especially women, in this age of equality, there are still many women who fight for the rights. In some places of this world, some women just fight for a good, simple and normal life, but it could be so complicated. However, they keep fighting. Their strength keeps improving this world.

Every time I feel sad, powerless, and upset, somehow I can not do anything. When I found this world is painfully unfair, it is so difficult, even just to be strong. I have to look for the strength, the trick I do is by remembering many strong women, such as my mother, Nadya Hutagalung, or Sonali Mukherjee. And it works. Never give up on life ❤

Posted in Campur-campur

Makan Malam di Barcelona

Bulan April lalu gue berkesempatan transit di Barcelona lagi. Kali ini gue nggak nginep di hostel, tapi di rumah host Couchsurfing. Cuma 2 malam 1 hari sih, tapi seru. Malam pertama di Barcelona, gue baru datang dari Madrid, dijemput host, dan langsung istirahat. Ternyata, gue sudah ditungguin keluarga host, gue datang sudah larut malam. Bis ALSA jurusan Madrid-Barcelona lumayan nelat.

Keesokan harinya gue bangun pagi, ikut nganterin 2 putrinya host ke sekolah. Selanjutnya gue jalan kaki sendiri keliling Barcelona. Setelah capek jalan-jalan, sorenya gue mampir ke pasar tradisional di belakang La Rambla. Terus pulang ke rumah host. Sampai di rumah, gue diajak masak bersama dan makan malam bersama keluarga host.

Dua putri host sangat cantik dan pintar. Namanya Guida dan Abril, yang masing-masing berumur 8 dan 5 tahun. Si papa sudah tahu kalau gue nggak mau makan babi. Memang makanannya tidak ada yang mengandung babi sih, tapi ada suguhan wine. Dengan lemah lembut dia memberi tahu kedua putrinya dengan bahasa Catalan.

Papa : “Jadi, April ini seorang Muslim, dia tidak boleh makan babi, juga minuman beralkohol.”

Guida: “Por que, papa?”  // kenapa, Papa?

Papa : “Karena menurut Islam, itu tidak bagus untuk mereka. Orang Yahudi juga ada yang tidak makan babi. Di India, ada banyak orang Hindu. Kalau orang Hindu, mereka tidak diperbolehkan makan sapi. Jadi, di dunia ini ada orang yang berbeda-beda. Kita harus menghargai apa yang orang lain yakini, walaupun berbeda. ”

Gue yang mendengar percakapan itu jadi terharu dan senang. Alangkah indahnya kalau semua orang tua membesarkan anaknya dengan kasih sayang, rasa menghargai, dan toleransi. Pasti dunia jadi lebih baik.

Nggak cuma itu, gue suka dengan parenting yang diterapkan keluarga ini. Gue kan ngomong pakai bahasa Inggris, dicampur aduk bahasa Jerman yang kacau. Kadang gue juga ngomong pakai Bahasa Spanyol untuk kalimat-kalimat yang sederhana. Pokoknya kacau deh, sebelas dua belas sama Cinta Laura. Dengan sabar, sang orang tua selalu meneterjemahkan apa yang gue ucapkan ke Bahasa Catalan/Spanyol. Jadi, dua bocah cantik itu mengerti dan selalu dilibatkan dalam percakapan kami. Gue melihat orang tua sangat menghargai perasan dan opini sang anak.

Si kakak Guida sudah menunjukkan sikap yang bertanggung jawab. Dia anak yang teroganisir. Bangun pagi sendiri dan mandi sendiri tanpa perlu dibujuk-bujuk lagi.  Sebelum tidur, biasanya dia rutin membaca buku. Dia memang suka membaca buku. Dia juga pendiam, tapi lebih banyak berbuat. Contohnya, ketika papanya nawarin gue, “Apa mau pisang?” Gue jawab. “Si, te queiro” (Ya, mau). Guida langsung mengambil pisang dan memberikannya ke gue tanpa sepatah kata. Gue bilang, “Gracias!” Baru deh dia jawab, “Denada!” Kalau ketemu Guida, gue senang menyapanya, “Que tal?” yang artinya “Apa kabar?” Dengan tersipu malu, dia akan menjawab, “Bien. Y tu?” (Baik, dan kamu?)

Kalau si Abril, lebih banyak ngomong dan lebih santai dari kakaknya. Dia suka iseng dan selalu terlihat ceria. Dia lebih deket ke Papanya. Dia sering manja dan memeluk papanya, “Como estas, Papa?” (Apa kabar, papa?). Setiap kali dipanggil, “Abril!”, dia akan membalas dengan senyuman termanis. Mukanya mirip Hermione. Si Abril masih harus digendong agar mau sikat gigi atau siap-siap ke sekolah. Kedua anak memang punya sifat yang beda, tapi sama-sama menyenangkan, bisa bersikap, dan punya kelebihan masing-masing.  Subhanallah, keluarga yang manis

Setiap kali inget 2 bocah itu, hati gue terasa masih nyangkut di Barcelona.  Me encanta, Barcelona!

Barcelona April 2016

Posted in My Life

Trust Yourself!

When I was 18yo, I wanted to study in a good university and to pursue my dream to be a scientist. I wanted to study in University of Gajah Mada (UGM) or Universitas Indonesia (UI). Those are the best universities in Indonesia. However, I was afraid that I could not reach my dream because  the education in Indonesia was getting more expensive.  At the moment I was poor. My mom who was a single parent had lost her small business. We have faced poverty for several years. It was difficult for me to pay school fees in my high school, even to buy new clothes I had to be very patient.  So, I used to hide the dream. I was looking for scholarships but I was not sure. There was a fear that my dream was just a joke.

Many people asked me about my plan after finished my study in high school. It is common things in my country to ask relatives about their future plans. But I kept being silent. I also had no optimism. But, one day one of my classmate told me that I should be brave to talk about my dream. His name is Irwan.  He said, ‘Maybe people will pray for you if they know your dream. They will help you to make it true.  Nobody knows.’

Then, I  started to answer it clearly, every time people around me asked me. ‘I want to study in UI. I want to go to Jakarta’. Of course, I gained many supports from my beloved friends. They wishes the best luck for me and I also prayed for the best things for them.

But not all people have positive mind. I didn’t know it. Some people laughed at me. They thought it was something impossible. UI has very competitive student selection. In my small hometown, they thought you must have a lot of money and intelligence to be accepted. And I was out of those criteria.

I went to my cousin’s home. He asked me about what will I do after high school. I told him the same, that I wanted to go to Jakarta and studied in UI. There was a fear in his face but he supported me and told me that I had to be careful in Jakarta. Actually I never lived outside my hometown. I told him that I had some good friends and I would be okay in Jakarta.

Suddenly his girlfriend came to us. She also asked me about my plan. I said the same, “UI is my next destination”. She laughed at me, “It is impossible. UI is very expensive. Only rich people can study there. And also Jakarta is a dangerous city. There are many bad people. You have no money and knowledge to live in that metropolitan city.”

I said, “I will do my best. I will look for scholarship or do some part time jobs. I really want to go there.”

She said again, “The scholarships are bullshits. In Jakarta people will deceive you. It’ s better for you to reach other possible dream. Your mother is not really rich, just study in local universities. UI is for famous and rich people.” She laughed so hard. Other neighbor came and she told her, “April wanted to study in UI. She wanted to get a scholarship. She wanted to do a part time job. I am not sure that she can do any job.” They laughed together.

My cousin could not be on my side. He kept silent because he was afraid with his lady.

I decided to go home. I cried home.

My mother asked me why I cried. I told what my cousin’s partner had said. Mom became upset. She told me,”Do not trust them. Trust yourself! You can be a student in UI! Make it true!” In the next day, my mom came to my cousin’s home and expressed her feeling to my cousin’s lady,”You will see. My daughter will study in UI!”

Four years later I went back to my hometown. Officially I had just received my bachelor’s degree in computer science. I am very thankful for the difficult path I’ve chosen. It was difficult, but not something impossible. There were my mom and many beloved people who have supported and helped me. So I could reach my dream to study in UI.

I realized that I could not able to reach my dreams if I trusted negative people.

 

Posted in Review

Mengirim Uang Antar-negara

Gue udah sekitar 4 atau 5 kali kirim uang antar-negara, atau lebih tepatnya antar mata uang antar negara. Ada pengalaman yang pahit, ada juga yang asam-asam. Sampai akhirnya gue tahu cara yang paling ngirit dan reliable. Namanya hidup di negara orang, kadang hal-hal kayak gini bisa jadi penting. So, gue mau share pengalaman gue dan siapa tahu ada manfaatnya.

  • Transfer Internasional Biasa Lewat Bank

Cara ini paling mudah dilakukan. Tinggal pergi ke kantor cabang Bank (level nasional) dan akan dibantu oleh pegawai bank. Waktu itu gue mau transfer ke sebuah yayasan yang rekeningnya pakai bank Australia. Gue tanya besar biaya transfernya. Si mbak pegawai bank B** Syariah bilang IDR 20.000,- Hmm, gue pikir nggak terlalu mahal dan akhirnya gue setuju. Beberapa hari kemudian gue dapat kabar kalau uang yang gue transfer itu kepotong USD 30. Arghhhh, gue protes sama si mbak pegawai bank dan ternyata kabar itu dibenarkan. Dia cuma minta maaf. Nyesek karena waktu itu gue lagi jobless dan juga rate dollar lagi di puncak ketinggian. Sebenernya gue cuma transfer kurang dari USD 200 tapi kepotong USD 30. Hiks, teganya. Akhirnya gue tahu kalau yayasan itu punya rekening versi Indonesia. Gue pun transfer lagi ke yayasan itu sebesar kekuranganya USD 30 dari rekening bank Indonesia gue dan cuma kepotong sekitar IDR 6.000,-. Yeah, problem solved. Sejak saat itu gue berjanji, nggak mau lagi sembarangan transfer uang.

Suatu ketika gue dalam keadaan terdesak lagi. Gue udah pindah ke Jerman, gue cuma punya uang di rekening bank Jerman, tapi gue harus transfer uang ke rekening keluarga di Indonesia. Kalau pakai cara pertama, gue trauma, ntar kepotong banyak. Udah pasti biayanya besar karena beda bank, beda mata uang, dan beda negara. Selain itu, keluarga gue butuh cepat. So, gue nanya ke banyak orang. Salah seorang teman di Jerman bilang kalau dia pernah transfer pakai transferwise.com dan cuma butuh 2 hari. Langsung deh gue googling dan memang sudah ada beberapa orang Indonesia yang sudah mencoba. Akhirnya gue berani coba tapi jumlahnya sedikit dulu. Gue pinjam rekening BNI teman yang lagi di Indonesia dan yang punya i-Banking. Kenapa pakai rekening teman? Soalnya kalau pakai BNI gue dan kenapa-napa, gue nggak bisa ngurus ke kantor cabang BNI. Di Jerman ga ada kantor BNI. Kalau ke rekening BNI nyokap gue, dia nggak punya i-banking, ntar susah ngeceknya. So, akhirnya gue pakai jasa Transferwise. Caranya bikin akun di Transferwise, terus masukin data berapa yang mau ditransfer dan juga rekening penerimanya. Awalnya prosesnya cukup smooth dan websitenya sangat mudah dimengerti. Gue transfer dulu dari rekening bank Jerman gue ke rekening bank Jerman-nya transferwise. Menurut prediksi, uang akan sampai ke rekening BNI teman gue 2 hari kemudian. So, gue harus sabar. Sayangnya, 2 hari lewat tapi teman gue ngabarin uang belum masuk. Duh, gue sempet takut dan puyeng banget. Keluarga gue butuh uang itu. Gue pun mengontak pihak customer support-nya Transferwise. Responsenya sangat baik.  Si CS mengirimkan dokumen lewat email, terus gue forward ke teman gue. Setelah terpotong weekend, teman gue ke kantor cabang BNI pas hari senin dan bawa dokumen itu. Nggak lama kemudian, uang itu masuk ke rekening BNI. Teman gue ini terus transfer ke rekening nyokap gue. Kelar.

Huft, ribet ya? Deg-degan juga sih. Ternyata memang nyangkut di BNI. Mungkin setelah kasus gue, pihak Transferwise memperbaiki proses transfernya ke BNI. Dan soal biaya, gue cuma bayar sekitar kurang dari 2 Euro untuk transfer sebanyak 200 Euro. That’s cheap. Rate tukar yang dipakai transferwise juga sangat bagus, jauh lebih fair dari bank.

  • Transfer Ria Money Transfer

Dalam masa ketar-ketir nunggu transferan lewat transferwise yang belum nyampe-nyampe, gue pun galau sambil memikirkan alternatif lain. Di kampus ada jasa pengiriman uang, namaya Ria Money Transfer. Gue nanya biayanya. Wah,  masih cukup mahal bro. Rate mata uangnya juga masih menyakitkan. Tapi kalau dibandingin dengan bank, masih lebih baik. Gue mengambil brosurnya dan pulang untuk mikir-mikir dulu dan juga menunggu kepastian dari transferwise. Sampai di rumah, nyokap telepon dan gue pun merasa bersalah karena belum mengirim uang. Waktu itu juga sudah weekend. Gue galau dan merasa bersalah sampai susah tidur mikirin uang yang belum terkirim. Begitu hari senin tiba, gue langsung cus ke kantor Ria Money Transfer. Untuk uang sekitar 190 Euro, biayanya 11 Euro. Karena udah kepepet, gpplah. Pembayarannya secara cash. Untungnya, si mas karyawan Ria ngasih diskon, gue cuma bayar 9 Euro. Prosesnya pun cepat, katanya cuma butuh 15 menit. Lewat 15 menit,  gue pun telepon ke keluarga buat ngambil di kantor cabang BNI terdekat. Alhamdulillah, transferan lewat Ria Money bisa diambil di hari senin itu, persis di hari yang sama dengan tranferan via Transferwise. Lega. Selain cepat, keunggulan dari Ria Money Transfer ini adalah uang bisa diambil di gerai indomaret, kantor cabang bank2 di berbagai kota di Indonesia.

  • Titip Teman yang Pulang ke Indonesia

Masih dalam masa ketar-ketir nungguin kiriman Transferwise yang belum nyampe, gue sempet curhat sama teman yang sudah lama tinggal di Jerman. Kalau lagi galau, emang gue suka curhat sama orang, bukan sama tembok. Anyway, si teman ini nawarin bantuan buat ngebawain uang gue ke Indonesia. Thank God, selalu ada angel dalam hidup gue. Ya, gue pun titip uang ke dia, walaupun dia pulangnya masih beberapa minggu kemudian. Yeah, pas dia udah di Indonesia, dia pergi ke bank dan transfer ke rekening Mandiri gue.  Rasanya memang gue perlu punya uang di rekening bank Indonesia gue, so kalau ada yang darurat, gue bisa transfer lewat i-banking. Cara ini murah, tanpa biaya, tapi agak ngrepotin orang lain dan juga belum tentu ada yang mau pulang pada saat mau transfer.

Alkisah, gue kembali lagi harus transfer uang antar negara. Gue menelusuri teman yang udah pernah pakai jasa Transferwise dan kenapa dia bisa lancar jaya cuma 2 hari, sedangkan dulu gue prosesnya ribet. Usut punya usut,  ternyata rekening tujuan yang dia pakai adalah Mandiri, bukan BNI. So, gue pakai jasa Transferwise lagi, tapi gue pinjam rekening Mandiri teman gue. Sebenernya gue juga punya akun Mandiri, tapi nanti gue nggak bisa ngadu ke kantor Mandiri kalau ada apa-apa. Gue buka Transferwise.  Biaya transfernya cuma 1 Euro, rate tukar mata uangnya cukup tinggi. Klik dan klik. Menurut prediksi, 2 hari lagi uang itu akan nyampai ke rekening tujuan. Dua hari kemudian gue kontak teman gue dan dia bilang uangnya sudah masuk. Oh, Thank God! Semuanya lancar. Mulai sekarang gue pakai Transferwise aja. The company has been doing a great job!

—————————–

Kesimpulan

Gue belum üernah coba Worldremit atau Western Union sih. Gue pernah mau coba Westen Union, tapi gue pusing dengan formulir yang harus diisi dan takut-takut gitu. Gue sudah nyaman pakai Transferwise dan gue merekommendasikan jasa pengiriman ini. Menurut gue, itu start-up baru yang cool. Sangat solutif. Semoga Allah membalas kebaikan orang-orang yang kerja di sana.

Dan lagi, kalau lo mau transfer uang pakai Transferwise dari link rekomendasi gue ini, biaya transfernya jadi gratis. Bisa ngirit 1 atau 2 Euro.

Transferwise is a really cool start-up company that helps you to transfer money internationally. Last but not least, if you guys tranfer money from my recommendation link  , you don’t need to pay the transfer fee. You can save 1 or 2 Euro. 

 

Terima kasih sudah membaca 🙂