Posted in Indonesia, Travel

Pengalaman Mengunjungi Suku Baduy di Banten

Setelah sempat menunda-nunda, akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Suku Baduy di Lebak, Banten. Saya memanfaatkan liburan akhir pekan. Kebetulan ada promo kunjungan dari travelicious.co.id , sebuah agensi travel. Kebetulan juga ada Gerry, teman kerja dari Jerman yang ingin melihat suku Baduy. Beberapa minggu lalu saya memberinya Buku Panduan Pariwisata dari Menpar dan dia tertarik dengan Baduy.

Apa yang menarik dari Suku Baduy? Menurut Buku Panduan Pariwisata, Baduy merupakan sub-etnis Sunda yang mengisolasi diri dari kehidupan modern. Mereka tidak menggunakan listrik. Suku tersebut terbagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Bedanya, Baduy Luar sudah mulai bersentuhan dengan kehidupan modern, sedangkan Baduy Dalam lebih ketat menolak modernisasi. Misalnya, di Baduy Dalam turis tidak diperkenankan mengambil foto.

Setelah membayar biaya trip, yaitu sekitar Rp 170.000,- per orang, kami antusias untuk merencanakan perjalanan. Untuk tinggal di Baduy selama 2 hari 1 malam, saya membawa perlengkapan ini:

  • pakaian untuk 2 hari
  • Jaket , sarung, atau sleeping bag (salah satu barang sebagai antisipasi hawa dingin)
  • sepatu sport
  • senter
  • alat ibadah
  • obat-obatan
  • toilet kit dan tissue basah
  • powerbank dan kamera (kamera hanya diperbolehkan di Baduy Luar)

Selain itu, saya juga harus membawa 2 liter beras dan beberapa makanan untuk diberikan ke Suku Baduy. Biaya lain yang harus saya persiapkan adalah tip untuk tour guide dan belanja oleh-oleh.

Pada H-1 tour guide memberi tahu bahwa orang asing (bule) dilarang masuk ke Baduy Dalam. Ini berarti Gerry tidak boleh memasuki Baduy Dalam. Saya sangat kecewa. Pembatasan tersebut tidak disebutkan di Buku Panduan. Saya menghubungi teman Polandia saya yang pernah mengunjungi Baduy sebulan lalu. Mereka bilang mereka hanya boleh di Baduy Luar dan walaupun begitu kunjungan itu sangat berkesan. Apa boleh buat, kami harus menghormati adat Baduy. Saya berharap kunjungan kami tetap akan berkesan walaupun hanya di Baduy Luar.

Pada tanggal 18 Oktober 2014 perjalanan ke Baduy dimulai. Saya dan Gerry berkumpul dengan rombongan Travelicious di Stasiun Duri jam 5 pagi. Jumlah total rombongan sekitar 13 orang. Kami berkenalan satu sama lain. Ada juga salah satu teman kuliah saya yang ikut bergabung. Kami baru berangkat dari Stasiun Duri pada pukul 06.00. Hmm, saya jadi menyesal kenapa tadi saya dan Gerry buru-buru datang on-time, pakai taksi lagi. Di jadwal memang disebutkan pukul 05.00 kumpul dan pukul 06.00 berangkat. Ya sudahlah.

Dari Stasiun Duri, kami naik kereta ke Stasiun Rangkas. Gerry sangat kaget dengan kondisi kereta Indonesia yang beda banget dengan kereta di negaranya. Kereta yang kami naiki bukan kereta jenis komuter line Jabodetabek, tetapi lebih tua lagi. Dia lebih kaget lagi setelah tahu harga tiketnya hanya Rp. 5000,-  dan bahkan tiket baliknya (Rangkas-Tanah Abang) cuma Rp 2.000,-. Katanya sangat murah untuk perjalanan yang jauh. Dua jam kemudian kami tiba di Stasiun Rangkas. Udara cukup terik dan orang sangat ramai. Kondisi Stasiun Rangkas cukup memprihatinkan karena belum direnovasi. Mesin e-ticketing baru mau dipasang.

Dari Stasiun Rangkas, kami berjalan keluar menuju terminal dimana mobil ELF telah disediakan untuk menjemput kami. Saya bersyukur karena mobil ELF untuk kami cukup nyaman dan baru. Mobil itu membawa kami ke terminal Ciboleger dengan kebut-kebutan. Di dalam mobil, saya asyik ngobrol dengan teman kuliah saya. Maklum, sudah lama tak bersua. Sementara, Gerry terheran-heran dengan kelakukan orang Indonesia. Mobil ngebut ugal-ugalan. Tidak ada yang pakai sabuk pengaman, bahkan sopirnya nggak pakai sabuk, hahahaha. Dia lebih heran lagi karena Mas Freddy (tour guide kami) tidak ikut masuk ke mobil, tetapi dia malah naik di atas mobil. Sepanjang jalan naik turun bukit, Mas Freddy menjaga barang-barang kami yang ditaruh di atas mobil. Gerry menyebut mobil ELF kami sebagai “mobil gila”, hahaha.

Kami tiba di Terminal Ciboleger pada pukul 11.30. Terlihat orang-orang Baduy sudah menunggu. Kami melihat ke sebelah kanan terminal, ada Alfamart. Tahu begini, saya nggak perlu bawa banyak makanan. Kami jajan juga di Alfamart, lalu ingin beristirahat masjid Ciboleger. Karena masjidnya sangat kotor dan tidak terurus. Saya, Gerry, dan Ayu (teman kuliah saya) memilih beristirahat di rumah seorang penduduk, tepat di belakang. Kami bertiga santai sejenak. Penduduk menyediakan toilet yang bersih. Kami makan siang dan sholat.

Pada pukul 1 kami kembali ke Terminal Ciboleger. Ternyata rombongan sudah jalan duluan. Tinggal saya, Ayu, dan Gerry. Saya menghubungi tour guide dan katanya nanti kami dipandu orang Baduy. Tak lama kemudian seorang Baduy datang kepada kami. Dia bilang namanya “Sapri” dan dia yang akan memandu kami. Saya memanggilnya “Mas Sapri”. Katanya kami tak akan ikut trekking ke Baduy Dalam. Kami menitipkan tas di homestay kami di Baduy Luar.

Dengan berbekal beberapa botol minuman mineral dan kamera, kami berempat menyusuri Baduy Luar.  Kami berjalan sekitar 3 kilometer menuju jembatan bambu yang menjadi perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam. Saya mengamati orang Baduy. Secara fisik, tidak ada bedanya antara orang Baduy Luar dan Baduy Dalam. Mereka mirip. Yang membedakan adalah ikat kepala mereka. Kalau ikat kepalanya putih berarti orang Baduy Dalam. Kalau ikat kepalanya hitam/biru, berarti orang Baduy Luar.

Ada sembilan desa di Baduy Luar, sedangkan di Baduy Dalam ada tiga desa. Masing-masing desa terpisah hutan. Rumah-rumah mereka dibangun mengikuti kontur tanah. Di kampung Baduy orang harus menjaga alam. Mereka juga punya tatanan hutan. Sebagian untuk hutan konservasi, sebagian untuk hutan produksi.  Walaupun tanahnya basah dan langitnya mendung, entah kenapa nggak ada nyamuk yang menyerang kami selama di Baduy. Pertanda bahwa kampung Baduy itu masih bersih. Kata Gerry, semakin ke dalam Baduy semakin cantik dan bersih.

Mas Sapri memberi banyak pengetahuan tentang tanaman dan budaya Baduy kepada kami. Dia berasal dari Baduy Dalam sehingga tidak diperkenankan memakai produk luar Baduy, kecuali makanan. Dia hanya memakai pakaian produk Baduy, yaitu baju hitam, putih, atau boleh biru. Barang-barang seperti sendal, sabun, atau shampo tidak diperkenankan untuk Baduy Dalam. Mas Sapri bilang dia sudah 6 kali ke Jakarta tanpa kendaraan apapun, alias jalan kaki. Itupun tanpa alas kaki. Tujuan orang Baduy ke Jakarta adalah untuk menjual produk dan kerajinan tangan mereka. Kadang-kadang juga untuk mengunjungi teman/kerabat. Kalau ke Jakarta, Mas Sapri hanya bawa tas tradisional berwarna putih dan parang. Di sepanjang perjalanan dari Baduy ke Jakarta, biasanya dia mendapat makanan dan minuman dari kebaikan hati orang.

Mereka menganggap modernisasi itu bisa menggangu adat dan alam mereka. Itulah budaya mereka.  Anak-anak Baduy tidak bersekolah sehingga hanya sedikit yang bisa berbahasa Indonesia. Tadinya saya pikir mereka muslim, ternyata mereka menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Meskipun demikian, orang Baduy tetap memiliki hak politik. Pada pemilihan umum, mereka ikut berpartisipasi sebagai pemilih.

Saya sangat senang mengunjugi Baduy sehingga saya tahu keberagaman dan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Ada banyak kearifan lokal yang dapat kita contoh dari orang Baduy, yaitu kesederhanaan, kebersihan dan konsistensi mereka dalam menjaga alam. Mengunjungi Baduy bisa termasuk wisata budaya sekaligus wisata alam. Meskipun demikian, ada hal yang saya sesalkan selama berada di Baduy Luar, yaitu sampah yang mulai bertebaran. Sebagian besar adalah sampah plastik bekas makanan dan minuman. Saya juga menemukan botol minuman bersoda. Padahal di depan setiap rumah orang Baduy, ada keranjang sampah.

Pada hari kedua di Baduy, saya dan Gerry mengikuti acara penanaman padi di Baduy Luar. Di sepanjang jalan menuju tempat penanaman, kami tidak menemukan secuil sampah plastik pun. Tempat itu sepi dari turis. Entah kenapa, di situ semuanya bersih. Tidak ada seekor nyamuk pun. Gerry bilang sepertinya tempat-tempat yang bersampah adalah tempat yang banyak turisnya. Saya malu. Kenapa membuang sampah pada tempatnya itu sangat susah? Ada keranjang sampah di setiap halaman rumah orang Baduy. Tentu hal ini sangat disayangkan. Sebagai turis, semestinya kita menghargai tempat wisata setidaknya dengan membuang sampah pada tempatnya.

Saya berharap semakin banyaknya turis tidak berarti semakin banyak sampah plastik yang bertebaran. Di banyak tempat wisata di Indonesia, banyak turis membuang sampah plastik sembarangan. Tidakkah mereka berpikir bahwa sampah bertebaran itu bikin sakit mata? Tentu ini membuat turis lain jadi kurang nyaman. Alam pun butuh waktu bertahun-tahun untuk mengurai plastik. Semoga pemerintah melalui Kementerian Pariwisata menetapkan denda uang kepada orang yang membuang sampah sembarangan di tempat wisata. Dendanya nggak usah mahal-mahal, tapi cukup realistis dan bisa diimplementasikan. Misal, ketahuan membuang sampah sembarangan didenda Rp 50.000,-. Bagi yang orang yang melaporkan kasus buang sampah sembarangan dapat uang Rp 20.000,-. Jadi negara/pemerintah lokal untung Rp 30.000,-. Mungkin juga perlu “polisi pariwisata” seperti di Vietnam, polisi yang bertugas khusus di tempat wisata untuk menjaga turis dan tempat wisatanya. Itu ide saya saja sih, biar Indonesia jadi bersih atau jadi tambah kaya karena uang denda.

Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli?

Author:

Just April.

2 thoughts on “Pengalaman Mengunjungi Suku Baduy di Banten

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s