Posted in My Life

Bukan Perempuan

Gue mengalami suatu kelainan dimana gue nggak bisa terlalu lama bertahan di pusat perbelanjaan. Nafsu belanja gue terbilang di bawah rata-rata. Kalau diminta temen cewek berbelanja berjam-jam, gue merasa dilema. Di satu sisi, gue sayang sama mereka. Di sisi lain, gue merasa lebih baik lari keliling lapangan 10 kali, atau bahkan ingin melenyapkan diri saja.

Setidaknya kejadian berikut membuat gue sadar akan kelainan tersebut.

1. Sewaktu SMP

Gue punya tiga teman cewek yang akrab karena sejurusan angkot. Walaupun kami berbeda kelas, tapi kami sering berangkat dan pulang bersama. Suatu hari kami pulang lebih awal dari jam biasanya. Mereka mengajak ke pasar untuk berburu pernak-pernik aksesoris. Awalnya gue takjub dengan kemampuan mereka menawar harga. Jago kayak emak-emak. Lama-lama gue kegerahan dan merengek, “Ayo mulih! Ayo mulih! (Ayo pulang! Ayo pulang).” Maklum, pasar kota waktu itu masih panas dan sumpek. Semenit dua menit, gue mencoba bersabar dan menunggu. Gue semakin kepanasan, kehausan, dan terus merengek. Tapi tiga teman itu tidak menggubris, malah semakin asyik lihat-lihat barang. Akhirnya, gue biarin saja mereka kelayapan di pasar. Sementara, gue jalan sendiri menuju terminal. Gue mendapati sebuah angkot yang hampir penuh. Gue dapat tempat di dekat pintu angkot. Tak lama angkot berjalan melewati pasar yang tadi. Tiba-tiba, angkot berpapasan dengan 3 teman cewek gue itu. Salah satunya nyeletuk, “Lha itu April! Dicariin malah dia udah duluan naik angkot!” Gue ketawa saja sambil melambaikan tangan, “Duluan ya! Daaaaaah!”

2. Sewaktu di Arizona

Di usia yang muda, gue pernah ikut program beasiswa di kota Tucson, Arizona, Amerika Serikat. Gue tinggal di apartemen sebagaimana mahasiswa internasional lain. Pihak apartemen menyediakan mobile shuttle untuk antar jemput ke pusat perbelanjaan Tucson seminggu 2 kali. Secara rutin gue berbelanja bareng roommate dan penghuni apartemen lain. Sebelum berbelanja, gue sudah menyiapkan list belanjaan dan berbagi tugas dengan roommate. Alhasil, gue termasuk orang yang paling ringkas dan cepat selesai berbelanja. Gue harus menunggu yang lain selesai berbelanja. Suatu kali gue memutuskan untuk pulang lebih dulu dan menunggu mobil shuttle. Gue berdiri di depan Wall-mart. Gue menjaga jarak yang jauh dari pintu Wall-mart supaya tidak mengganggu orang yang mau keluar masuk. Lama-lama jadi mati gaya juga. Eh, tiba-tiba datang sesosok cowok Amerika dari arah samping. Ganteng banget. Kira-kira mirip Andrew Garfield. Alhamdulillah ya Allah. Gue langsung bahagia. Cowok itu melihat ke arah gue. Iya bener, ke arah gue. Dia senyum manis ke gue sambil buka pintu Wall-mart. Dia menahan pintu dan memberi gesture, “Silakan masuk!”. Gue balas dengan senyum malu-malu, “Thank you! But I’ve done!”

3. Sewaktu di ITC Depok.

Suatu hari gue diajak berbelanja oleh sepasang kakak-beradik, sebut saja namanya mbak X dan mbak Z. ITC Depok adalah mall yang cukup besar dan ramai. Begitu tiba di sebuah lantai. Langsung saja, mbak X dan Z ini aktif mondar-mandir. Lihat kacamata, jilbab, sepatu, dan sebagainya. Gue ngikut saja di belakang. Lama-lama gue capek berdiri. Gue melihat-lihat apakah ada tempat duduk, sekedar untuk mengurangi letih. Gue menemukan kursi dan duduk di sana. Gue memprediksi paling-paling si mbak X dan Z berkeliaran di area ini aja. Gue bersabar menunggu mereka sambil main-main handphone. Lama-lama lowbat. Beberapa menit kemudian (nggak nyampai deh 30 menit semenjak gue duduk), ada pengumuman dari pengeras suara. Gue mencoba dengar. Dengan jelas pengumuman itu bilang, “Panggilan untuk Saudari Aprilia! Panggilan untuk Saudari Aprilia, dari Kampung Sawah! Mohon menuju bagian informasi karena telah dicari kakaknya.” Astagaaaaaa! Untung tidak menyebutkan full name. Gue langsung blingsatan menuju bagian informasi.

Di situ kadang saya merasa bukan perempuan.

Advertisements
Posted in Campur-campur

We Deserve Freedom

A relationship or a marriage should never be limiting our beings. It should give us freedom. Yes, it should help and support us to be a better person. It should strenghthen our strong points and weaken our bad point. But one should never force another to change and to be someone else.
We want to make him/her happy and stronger, by giving them support and freedom to seek their desires. Everyone deserves freedom to be him/herself.

Some goes for our kids, we want to teach our teachings, but shouldn’t force them. So they can grow up in to a person they want to be and feel best with. And that’s life. We are given an own opinion and freedom. In the same way, we should not enforce our own religious/political views to others, but respect our differences. God made us all different, gave us freedom to think. God stands for justice.

Life is about respecting each other and giving freedom to be what they want to be. That is what it means to be good, that is what our conscience, or God tells us to be.

(Del)