Posted in Campur-campur

Kesehatan Mental

Sedih banget denger berit bunuh diri. Terakhir, Chester Bennington, vokalis Linkin Park diumumkan meninggal gantung diri. Gue berharap itu bukan berita benar. Tapi sepertinya benar, hiks. RIP, Chester. Aduh, siapa yang menyangka.

Banyak deretan artis terkenal bunuh diri.  Sebenernya, yang bunuh diri bukan cuma orang terkenal, tapi banyak juga orang biasa yang bunuh diri. Waktu gue pulang kampung bulan Januari 2017, ada 2 orang yang gantung diri di Kabupaten gue. Tahun sebelumnya, di kampung yang nggak jauh dari kampung bokap gue, ada seorang bapak yang bunuh dengan cara nenggak racun rumput liar. Beberapa bulan kemudian, salah satu anak laki-laki si bapak itu juga ikut bunuh diri dengan nenggak racun juga. Sedih banget.

Ya, bisa dibilang, bunuh diri itu risiko fatal orang yang lagi depressi atau putus. Kalau istilah medisnya, akibat kesehatan mental yang bermasalah.  Di sini, gue mau bahas soal kesehatan mental, sejauh yang gue tahu. Gue bahasnya dari kacamata orang yang awam aja. Gue kan memang bukan ahli medis atau anak psikologi. Dibandingin sama kesehatan fisik, kesehatan mental ini relatif lebih susah dilihat. Siapa yang tahu orang mentalnya sehat atau bermasalah? Kadang susah. Kita nglihatnya seseorang itu bahagia, sukses, dan hidupnya baik-baik saja. Tapi bisa jadi dia mengalami depresi berat, yang bahkan keluarganya aja nggak tahu.

Gue pernah ngobrol dengan salah satu om gue soal kesehatan mental. Kebetulan, om gue kerja jadi perawat sekaligus assistant dokter kesehatan jiwa di RSUD. Sebelumnya, om gue ini kerja di bagian operasi (surgery) selama 2 dekade lebih, tapi sekarang dia di bagian kejiwaan. Om gue bilang, “Sekarang kalau kerja, Om nggak pegang lagi alat-alat operasi. Stetoskop aja enggak. Sekarang, Om kerjanya pegang tissue. Tiap hari ngecek, tissuenya masih ada atau sudah habis.” Ya, karena di bagian kejiwaan, om nangani pasien-pasien yang depresi dan banyak yang nangis di klinik.

Gue pun penasaran, “Emang banyak ya om, orang yang sadar pentingnya kesehatan mental dan mau ke dokter? Aku pikir orang Indonesia masih belum banyak yang aware soal ini?” Om gue jawab banyak, bahkan kadang pasiennya membludak. Kliniknya selalu ramai. Beberapa kerabat pun pergi ke klinik itu. Tapi, biasanya om gue nggak nangani kerabat langsung. Karena kalau kenal, mereka sungkan jadi pasiennya om. Etikanya juga, om gue nggak boleh kepo sama yang bukan pasiennya.  Ya, kami ngobrol aja ngalir. Alhamdulillah, jadi banyak tahu.

Kata om gue, ada banyak bedanya nangani pasien nggak sehat badannya dengan yang nggak sehat mentalnya. Selain soal terlihat dan nggak terlihat, peran dokter (dan paramedis lainnya) juga cukup beda. Misal, pasien kecelakaan mungkin butuh banyak tindakan dari dokter. Kesembuhannya banyak tergantung dari tindakan dokter, mau diapain sangat tergantung dokter dan perawat. Ya kadang tergantung pasien juga, dia mau teratur mengikuti prosedur pengobatan apa enggak. Tapi umumnya tindakan dokter banyak ngaruh ke kesembuhan pasien.

Nah, kalau soal kesehatan mental, peran dokter dan perawat lebih sebatas “fasilitator”. Maksudnya, dokter harus memfasilitasi pasien gimana mereka bisa sembuh. Dokter bisa memberi motivasi dan  membantu rehabilitasi. Kadang juga memberi obat, tapi nggak terlalu banyak. Kesembuhan lebih banyak tergantung sama pasiennya. Misal, apa pasien kuat memotivasi diri untuk sembuh dari depressi. Apa pasien mau berusaha melawan rasa takut yang dideritanya. Sehebat-hebatnya dokter, kadang nggak mampu menyembuhkan, kalau pasien juga nggak berusaha buat sembuh. Kadang sudah berusaha aja, masih sangat susah sembuh. Dokter nggak bisa ngasih suntikan yang adakadabra, bisa sembuh gitu. Di situ bedanya, menurut obrolan sama om gue.

Om gue ngasih analogi, kalau hubungan dokter jiwa dan pasiennya seperti guru dan muridnya. Guru bisa memberi buku, pelajaran, dan motivasi. Berhasil nggaknya tergantung si murid. Apa dia mau belajar apa enggak. Kadang masalah kesehatan pun bisa jadi sangat rumit, apalagi kalau level depresinya sudah parah.

Gue punya temen yang agak bermasalah kesehatan mentalnya. Teman gue ini gampang banget khawatir. Dia sering ngkhawatirin hal-hal negatif yang belum terjadi. Sejak kecil dia sering “jirih” atau takut. Sekarang dia sering banyak takut, khawatir, atau memikirkan risiko hidup. Level khawatirnya sangat berlebihan. Misalnya, jauh-jauh dia telepon ke Eropa buat bilang ke gue, “April, kamu abis S2, jangan ambil PhD. Nggak usah ngambil S3. Nanti nggak ada cowok yang ndeketin kamu. Kalau kamu terlalu tinggi kuliahnya, cowok jadi minder, bla-bla.”

Gue yang ndengerin dia, langsung ambil nafas. Aduh sayang, ini kenapa sih? Tapi ya, akhirnya gue maklum, karena tahu temen ini memang banyak khawatir. Dia sayang sama gue. Dia takut gue nggak dapet jodoh. Padahal, gue santai aja. Gue nggak ada rasa khawatir, ada apa enggak cowok deketin gue. Jodoh kan termasuk takdir Tuhan. Inshallah, Tuhan kasih jodoh yang terbaik dari yang terbaik, nggak terlalu dirisaukanGue juga maklum, dia tumbuh di lingkungan pedesaan, yang pergerakan feminism sangat minim. Namanya juga pedesaan, katanya “pamali” kalau cewek terlalu pintar. In fact, I never feel that I am smart enough since I studied in UI 🙂 Lagian, siapa yang mau S3? Boro-boro S3 atau PhD. Orang ini baru S2 aja, udah ampet-ampetan. Rasanya, otak gue nggak terlalu mampu ngikutin pelajaran.

Di lain waktu, tiba-tiba dia ngirim pesan. Dia bilang kira-kira begini, “April, kamu jangan sama cowok yang nggak se-agama. Temen-temen kamu banyak yang non-muslim. Kamu jangan pacaran sama orang yang nggak Islam. Kalau nanti nikahnya sama yang se-agama ya.” Gue jadi kaget ya. Bukan soal gue pacaran ama siapa. Tapi gue kaget, kok dia sebegitunya mikirin dan khawatir sama gue. Ya, memang temen gue banyak, dari banyak agama. Tapi kan, gue nggak ada pacar non-muslim. Demi nenangin dia, gue bilang, “Iya, pacar gue inshallah Islam.” Ya, gue nggak pengen dia banyak khawatir. Mikir begini begitu, sampe segitunya. Gue minta dia nggak usah terlalu mikirin gue. Jodoh di tangan Tuhan. Nggak usah terlalu ngawatirin hal-hal yang belum terjadi. Ini jelas nggak baik buat dia sendiri.

Masalahnya jelas nggak ada di gue. Bukan soal gue mau ambil S3 atau berjodoh sama siapa. Masalahnya ada  di temen gue ini, yang terlalu banyak khawatir dalam hidup. Yang namanya hidup, ada banyak masalah dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Tapi kalau banyak khawatir, normalnya nggak gitu juga.  Kalau dalam bahasa Jerman, ada peribahasanya, “Den Teufel an die Wand malen“. Secara harafiah, artinya “melukis setan di tembok.” Maksudnya, “terlalu banyak memikirkan hal-hal pesimistis/negatif yang belum terjadi atau terlalu fokus sama skenario terburuk”. Akibatnya  jadi pesimis dan khawatir yang nggak perlu.

Temen gue ini juga tahu berbagai macam penyakit, dia pernah curhat takut jadi sakit dan mati muda. Padahal, kalau dilihat dari luar, hidupnya baik-baik aja. Memang, dia sedikit mengalami gangguan perut, tapi kan berobat terus. Suaminya juga baik supportif dan hebat, bahkan sering jadi imam muda di Masjid Kota. Anaknya cantik banget dan sehat. Usahanya yang dulu susah, sekarang sudah lancar dan bahkan bisa buka cabang. Tapi, entah kenapa dia merasa sering khawatir dan justru nggak bahagia. Akhirnya, dia sering ke klinik untuk memperbaiki kesehatan mental.  Itu lebih baik. Menurut gue, kalau terus-terusan dibiarin, dia bisa makin dijajah pikiran negatid dan khawatir. Gue berdoa, semoga Tuhan membantunya untuk sembuh dari khawatir-khawatir yang tidak perlu. Semoga kembali bahagia seperti dulu. Ya gue cuma bisa kasih support dari jauh dan mendoakan yang terbaik.

 

 

 

 

Author:

Just April.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s